Operasi untuk Hindarkan “Stroke”

Operasi untuk Hindarkan “Stroke”

Jakarta, Kompas

Stroke adalah salah satu penyebab kematian tertinggi. Kalaupun penderita bisa selamat, ada kemungkinan terjadi kerusakan otak permanen. Untuk itu, ada sejumlah operasi bedah mikro untuk menghindari terjadinya atau terulangnya stroke.
Hal itu dibahas dalam simposium Update Cerebrovascular Disease Management yang diselenggarakan Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia (Perspebsi) Cabang Jakarta dengan Rumah Sakit Pantai Indah Kapuk, Jakarta, Sabtu (9/3).

Simposium yang diawali dengan demonstrasi bedah mikro pada pembuluh darah otak sehari sebelumnya, menghadirkan pembicara dari berbagai disiplin ilmu kedokteran di Indonesia serta Prof dr Kazuo Hashi, Director Pacific Neurosurgical Consulting, Sapporo, Jepang.

Menurut dr Daryo W Sumitro SpBS(K) dari Bagian Bedah Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM), penyakit serebrovaskuler adalah penyakit yang disebabkan lesi (gangguan jaringan) vaskuler (pembuluh darah) di otak dengan manifestasi stroke baik yang bersifat hemoragik (perdarahan) maupun iskemik (sumbatan).

Lesi vaskuler yang dapat mengakibatkan stroke adalah stenosis (penyempitan) arteri karotis (pembuluh nadi leher), aneurisma (pelebaran pembuluh darah setempat) dan malformasi vaskuler (gangguan bentuk pembuluh darah). Stroke bisa pula terjadi akibat lesi nonvaskuler seperti hipertensi, penyakit hematologi dan obat.

Operasi bisa dilakukan pada penyakit serebrovaskuler yang sudah bermanifestasi sebagai stroke maupun yang belum. Pada stroke perdarahan tujuan operasi bersifat penyelamatan jiwa, yaitu dilakukan dekompresi (tindakan untuk mengurangi tekanan pada rongga otak). Sedang yang belum bermanifestasi, tujuan operasi adalah mencegah stroke lewat tindakan yang sesuai, antara lain kliping (pemangkasan) aneurisma, reseksi (pemotongan) malformasi vaskuler, maupun endarterektomi (pembedahan) pembuluh nadi yang menyempit.

Selain endarterektomi, demikian Prof Dr dr Teguh Santoso SpPD dari Sub Bagian Kardiologi Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, untuk mengatasi stroke akibat penyempitan pembuluh nadi leher juga bisa dilakukan pemasangan stent (semacam cincin yang dipasang di pembuluh nadi).

Pemasangan stent lebih “bersahabat” karena tidak invasif, lebih sedikit menimbulkan trauma dan tidak terlalu menyakitkan, sederhana, cepat, tidak perlu anestesi umum, risiko lebih kecil serta luka operasi relatif kecil.

Indikasi pemasangan stent untuk pembuluh nadi leher adalah mereka yang berisiko tinggi untuk operasi endarterektomi, usia lanjut, ada penyumbatan pembuluh nadi leher kontralateral (pada sisi bertentangan) atau pasien mengalami penyempitan kembali pembuluh nadi leher yang pernah dioperasi.

Sebaliknya kontraindikasi antara lain baru saja mengalami stroke (sekitar tiga minggu)-sebaiknya pasien distabilkan lebih dulu dengan obat antikoagulan atau antiplatelet-, pembuluh nadi sangat berliku-liku atau sudah sangat mengeras serta penderita yang mengalami gangguan ginjal berat. (atk)

This entry was posted in UMUM. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s