Tommy Hendra W: Kehilangan Golden Period, Akibat Penolakan Rumah Sakit

Tommy Hendra W:
Kehilangan ?Golden Period? Akibat Penolakan Rumah Sakit

Karena penolakan rumah sakit, saya kehilangan golden period. Meski tidak sampai kehilangan nyawa, saya harus menanggung kecacatan yang cukup berat selama lebih kurang enam tahun. Itu terjadi setelah saya terkena serangan pertama 18 April 1999 lalu, di saat menghadiri rapat pleno pada usia 56 tahun.

Karena penolakan rumah sakit, saya kehilangan golden period. Meski tidak sampai kehilangan nyawa, saya harus menanggung kecacatan yang cukup berat selama lebih kurang enam tahun. Itu terjadi setelah saya terkena serangan pertama 18 April 1999 lalu, di saat menghadiri rapat pleno pada usia 56 tahun.

Sebenarnya sampai usia 56 tahun saya segar bugar, dan rajin melakukan general check up, karena saya bekerja di sebuah perusahaan penerbangan yang menerapkan general check up cukup ketat kepada karyawannya. Selama bekerja saya tidak pernah mengalami sakit yang berat, sampai akhirnya stroke yang menyebabkan kelumpuhan saya menyerang.
Saya terserang stroke saat sedang menghadiri rapat pleno pada usia 56 tahun. Tiba-tiba tangan dan kaki kanan saya tidak bisa diangkat, mulut mencong dan keringat mengalir dengan deras sampai kemeja yang saya kenakan basah kuyup. Pada saat yang bersamaan kepala rasanya seperti ada cairan mengalir, saya sama sekali tidak tahu kalau saya sedang terkena stroke, karena pengetahuan saya tentang stroke sama sekali tidak ada.
Melihat keadaan saya yang demikian, oleh rekan-rekan peserta rapat saya langsung di bawa ke RS Harapan Kita, dengan pertimbangan dekat dengan kediaman saya. Namun ketika tiba di rumah sakit tersebut saya ditolak, karena sakit yang saya alami bukan karena serangan jantung, melainkan serangan stroke, seperti kekhususan pelayanan rumah sakit ini. Pada saat itu tekanan darah saya mencapai 170/110 pada 2 jam setelah serangan.
Karena rumah sakit pertama yang saya datangi tidak dapat menangani, akhirnya atas kesepakatan keluarga saya dipindahkan ke RS Sint Carolus, di rumah sakit ini saya langsung mendapat cairan infus, sayangnya penanganan neurologis baru saya dapatkan setelah 5-6 jam serangan. Idealnya penanganan yang baik harus saya terima kurang dari 3 jam setelah serangan stroke.
Setelah menjalani pemeriksaan Ct Scan di RS Carolus, baru diketahui saya mengalami pendarahan di otak, jenis stroke ?Hemoragik? Pemulihan awal antara 6-9 bulan adalah ?masa keemasan? rehabilitasi, tergantung kerusakan otak, pusat syaraf yang terkena menentukan kecepatan pemulihan IPS. Ada yang pulih sama sekali, tapi biasanya 5% dari total pasien stroke dan yang lain diklasifikasikan sisa stroke ringan,sedang dan berat (kecacatan).
Upaya pemulihan yang saya jalani selama 6 tahun terus menerus melalui latihan Fisio-teraphy, Occupacy-theraphy, stretching otot yang lemah oleh perawat. Bukan hanya itu, selain latihan saya juga kombinasikan antara pengobatan medis dengan tradisional baik dalam maupun luar negeri, bahkan berbagai suplemen juga saya konsumsi, secara berkesinambungan, namun kondisi sisa stroke (kecacatan saya tetap tergolong agak berat, karena mayoritas motorik saya mengalami kerusakan).
Akibatnya tangan kanan sampai sekarnag masih belum bisa diangkat melewati bahu, pergelangan dan kelima jari-jari tangan belum bisa berfungsi sama sekali. Kaki kanan walaupun bisa berjalan perlahan-lahan sekali, tetapi tekukan lutut (hamstring) sambil jalan belum muncul, pergelangan dan jari-jari kunci belum dapat berfungsi serta angkat paha hanya terbatas 5-6 cm dari lantai. Bukan hanya itu kalau bicara terlalu cepat masih pelo, dan harus perlahan-lahan sekali baru jelas dan tidak sengau.
Dari sekian banyak faktor penyebab serangan stroke, saya terserang serangan stroke ?Hemoragik? yaitu karena faktor keturunan, karena ibu saya juga terkena stroke pada usia 70 tahun karena hipertensi. Selain itu, tekanan darah saya selalu 130/90, sehingga saya gampang emosi dan marah-marah pada usia 30 tahun. Saya juga jarang sekali melakukan kegiatan olah raga.
Kegiatan olah raga baru saya lakukan setelah serangan stroke, bahkan untuk memulihkan kondisi saya sering berolah raga seputar Stadion Utama Senayan sore hari jalan rata-rata 2000-2500 meter. Bagi orang awam, mereka berpikir pasti secara bertahap saya sudah memperoleh kemajuan, padahal stagnasi sisa stroke (cacat)? saya tetap tidak ada perubahan.
Disamping itu saya mengalami ?spastis? kekauan otot, yang tergolong agak berat di kaki terlebioh di tangan kanan saya. Walaupun sudsah 5 kali mengalami suntikan Botox Type A diikuti latihan intensif (FT/OT) ternyata spastis hanya turun sedikit.
Kepada masyarakat umum, agar terhindar dari serangan stroke, hendaknya selalu menerapkan pola hidup sehat. Selain itu, apabila ada di antara keluarga kita yang terserang stroke, untuk tidak lupa memeriksakan diri ke dokter agar bisa dilakukan proses pencegahan. Tommy Hendra W

This entry was posted in KS-KLINIK KARMEL. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s