PEYANDANG STROKE BISA NYETIR LAGI; TAPI AWAS !!!

PEYANDANG STROKE BISA NYETIR LAGI; TAPI AWAS !!!

H. Berry Tanukusuma. 07.05.07.

Sejalan dengan kemajuan teknologi di berbagai bidang, termasuk pesatnya kemajuan teknologi Automotive, banyak hal-hal yang dahulu dianggap tidak mungkin, kini menjadi mungkin dan merupakan pemandangan sehari-hari yang tidak aneh atau luar biasa.
Misalnya FT, yang lumpuh kedua belah kakinya akibat penyakit polio dan 20 tahun yang lalu dianggap tidak mungkin, sekarang dengan nyamannya mengemudikan Holden Kingswood tuanya di kesibukan lalulintas kota Jakarta, setelah merenovasi mobilnya dengan memindahkan semua pedal yang seharusnya digerakkan oleh kedua belah kakinya dibawah, dialihkan keatas sedemikian rupa sehingga dapat difungsikan oleh kedua belah tangannya, sehingga sepintas lalu, mobil tua yang meluncur di jalan raya itu tidak tampak bahwa dikemudikan oleh seorang penyandang cacat yang lumpuh kedua belah kakinya, tapi jika diperhatikan lebih jeli, akan terlihat bahwa mobil itu dilengkapi dengan sticker (gambar stempel) kursi roda berwarna biru/putih 1 lembar di depan dan 2 lembar di belakang yang mengisyaratkan bahwa mobil itu dikemudikan oleh seorang penyandang cacat dan akan lebih jelas lagi, ketika mobil itu tiba di tempat tujuan, maka dari pintu kanan depan akan tampak bahwa sang pengemudi bukannya melangkah keluar dari dalam mobil, melainkan “ bergelantungan seperti Tarzan dari dalam mobil lalu beralih ke atas kursi roda dan kemudian didorong pergi oleh asistennya yang semula ikut sebagai penumpang, yang sudah tidak canggung lagi melaksanakan tugasnya, bahkan sempat ikut mendampingi FT beberapa tahun lalu mengikuti perlombaan rally mobil penyandang cacat, menempuh jarak Jakarta – Yogyakarta dan berhasil menjuarainya.
Demikian pula halnya dengan FA, lelaki separuh baya yang akibat suatu kecelakaan lalu lintas 15 tahun lalu sehingga kaki kanannya harus di amputasi, maka walau hanya dengan sebelah kaki, sehingga untuk berjalanpun ia harus disangga oleh sepasang kruck di ketiaknya tidaklah terlalu sulit baginya untuk mengemudikan Honda Accord buatan tahun 1980 yang telah “disesuaikan” dengan kondisi tubuhnya, sehingga fungsi rem dan gas berpindah lokasi ke sekitar dashboard dibawah kemudi dan di jalan tol ia sanggup meluncur dengan kecepatan 120 km/jam.
Lalu bagaimana kemungkinanannya dengan kita, para penyandang stroke (Insan Pasca Stroke) ? saya sendiri dan demikian pula dengan 12 rekan lainnya dari RSCM, RSPAD, RS. Fatmawati, Klinik Karmel dan Rumah Sakit Islam Jakarta telah mengalami dan membuktikannya sendiri, bahkan beberapa orang di antaranya, sanggup mengemudikan mobil tanpa harus merenovasinya, oleh karenas bagian tubuhnya yang sakit/lemah, masih bisa berfungsi, meskipun tidak sekuat bagian tubuhnya yang sehat.
Khusus pada kasuh saya, oleh karena tangan dan kaki kiri sama sekali tidak dapat berfungsi untuk memindahkan gigi versneling dan menginjak kopling, maka terpaksa kijang tahun 1994 ini saya ubah menjadi kijang automatic dengan mengganti gearbox assy manual dengan yang automatik dengan total biaya 7 juta rupiah yang relatif sangat murah jika dibandingkan dengan membeli kijang automatik original yang harganya diatas 100 juta rupiah.
Tetapi ternyata kendala yang dihadapi oleh seorang pengemudi stroke, bukan hanya sekedar ketidakmampuan menginjak kopling dan memindahkan gigi versneling saja, tetapi akibat serangan stroke berat yang saya alami pada tanggal 15 Januari 1986, 21 tahun lalu, bukan hanya sekedar mencederai otak/syaraf motorik (7) dan syaraf bicara (9) saja, tetapi ternyata telah merusak/mengganggu syaraf pengendali yang ternyata dapat mengakibatkan ancaman bagi keselamatan dan kenyamanan mengemudikan mobil, antara lain, namun tidak terbatas pada gangguan berikut ini :

I. Gangguan kontrol diri

1. Sewaktu-waktu, tanpa disadari saya keasyikan menikamati nyetir mobil lagi, tidak terasa telah menginjak pedal gas berlebihan, sehingga tiba-tiba saja tersadar dan terkejut ketika istri saya memperingatkan “Awas pak, jangan terlalu cepat!” dan ketika saya melihat ke arah speedometer, ternyata jarumnya telah mantap, tidak bergeming menunjuk ke angaka 140 km/jam di jalan tol Jakarta – Cikampek.
2. Demikian pula halnya, tanpa disadari, keasyikan nyetir mobil bersama-sama dengan 7 IPS dari RSCM, menjelajah kota Jakarta, Depok dan Bekasi untuk mengunjungi kawan-kawa senasib, IPS yang kondisi kesehatannya memburuk, tetapi alangkah terkejutnya ketika tiba kembali dirumah, istri saya ngomel habis-habisan, karena jam telah menunjukkan pukul 19.00 malam, sedangkan saya berangkat meninggalkan rumah, setelah sarapan pukul 07.00 pagi, yang berarti saya telah nyetir mobil sehari suntuk selama 12 jam dengan hanya berhenti untuk ngisi bensin, makan siang, sholat dan pipis saja!

II. Gangguan Orientasi (Disorientasi)
1. Nyasar ke Taman Safari
Sebelum ada jalan tol Cipularang/Purbalarang dulu, ketika saya nyetir mobil ke Bandung lewat Puncak, di tengah perjalanan anak-anak ribut pada protes : “Pak, ngapain malam-malan begini ke Taman Safari?” rupanya tanpa sadar, saya telah berbelok ke arah Taman Safari pada pukul 19.00 malam.
2. Nyelonong ke Tanjung Priok
Begitu juga halnya, ketika nyetir dalam keadaan hujan lebat, di jalan By-pass menuju pulang ke Rawamangun, di lampu merah By-pass Pramuka, yang seharusnya belok ke kanan ke jalan Pemuda, tanpa disadari mobil nyelonong lurus ke arah Tanjung Priok, untung saja cepat disadari, sehingga dapat langsung berbalik arah kembali di perempatan Jl. Rawasari / H. Ten

III. Gangguan Konsentrasi :
1. Meskipun merasa cukup tidur dan tidak mengantuk, ketika sedang asyik nyetir, secara perlahan-lahan, tanpa terasa dan tidak disadari, ternyata mobil telah nyelonong sendiri ke tepi kiri dan baru terkejut tersadar setelah roda kiri depan menyentuh trotoar atau menginjak rumput pembatas tepi jalan.
2. Sewaktu ngantri pada kemacetan lalu lintas, ketika sebuah mobil menyusul di samping kanan sambil mencet klakson dengan keras, sehingga saya terkaget dan meninjak gas tanpa sadar agak terlalu keras sehingga hampir nabrak mobil di depan, sedangkan tangan kiri yang lumpuh, tanpa disadari telah terangkat/terlempar ke atas sampai membentur plafond mobil, yang kalau secara sadar atau sengaja, saya tidak sanggup melakukannya.

IV. Gangguan Reaksi :
Di luar kesadaran saya, ternyata kemampuan reaksi saya sudah jauh menurun, sehingga ketika mengahadapi kondisi yang kritis pada persimpangan jalan di Cipanas – Puncak, sebuah Pick-up pengangkut sayur nyelonong ke samping kiri, saya terlambat nginjak rem dan banting setir, sehingga serempatan pun tak dapat dihindarkan. Untung saja yang cedera hanya sekedar pintu kiri mobil saya, sedangkan kedua penumpangnya, Alhamdulillah selamat.

V. Gangguan Demensia/lupa/pikun :
Meskipun tidak menyebabkan akibat yang fatal, tapi gangguan demensia/lupa /pikun vascular ini sangat membuat saya risau dan khawatir seperti misalnya :
1. Lupa menutup tanki bensin ;
Setelah mengisi BBM di pom bensin, lupa menutupnya kembali dan baru menyadarinya setelah ada sebuah mobil menyusul sambil memberi isyarat dan menunjuk-nunjuk ke arah tanki bensin saya, karena bensinnya kececeran di jalan raya.
2. Lupa mematikan lampu mobil
Ketika akan berbelok kanan ke pintu gerbang RSPP, biasanya untuk “minta jalan kepada mobil lain saya cukup dengan menyentuh tuwas switch lampu, kali ini saya minta jalan dengan cara menghidupkan lampu besar dan kemudian langsung parkir tanpa mematikannya kembali.
Ketika akan pulang, mobil tidak bisa distarter karena akinya soak akibat setengah harian parkir dengan lampu besar menyala terus.
Tapi masih untung, saya selalu berbekal kabel jumper di mobil, sehingga bisa “meminjam” aki taxi/mobil lain dengan imbalan 20 ribu rupiah.
3. Lupa narik rem tangan :
Ketika mengisi BBM di pom bensin yang pelatarannya menurun (mudun) ke arah jalan raya, saya lupa memasukkan gigi versneling ke gigi P dan menarik rem tangan, sehingga ketika baru saja keluar dari pintu, mobil mulai nyelonong perlahan ke arah jalan raya.
Karena saya berusaha menahan laju mobil dengan cara menarik pintunya, maka boro-boro bisa berhenti, malahan saya terbanting jatuh ke kolong mobil, sehingga ban belakang mobil lewat hanya beberapa cm saja dari kepala dan hanya sempat menggilas kacamata saya sehingga hancur berantakan dan harus menggantikannya dengan yang baru seharga Rp. 410.000,- tapi Alhamdulillah kepala saya selamat!
4. Lupa mematikan mesin mobil
Ketika parkir di pelataran RSCM untuk bergabung dalam acara senam stroke, rupanya saya lupa mematikan mesin mobil, karena hanya mencabut kuncinya saja, tanpa memutarnya sehingga mesin mobil menyala terus dari pagi sampai senam selesai pukul 12.00 siang, itupun setelah tukang parkir menyusul ke tempat senam dan memberitahukan bahwa mesin mobil masih hidup yang membuat saya terkejut dan menyadarinya. Rupanya karena mobil tua, sehingga kuncinya sudah aus/gundul dan bisa dicabut dalam keadaan mesin hidup.
5. Lupa mengisi bensin
Tanpa melihat bahwa jarum indikator bensin sudah mendekati hurup E, dari Cilandak saya langusng saja masuk ke gerbang tol ke arah Cawang. Tepat dipersimpangan jalan layang Grogol-Priok, mesin mobil mati dengan jarum indikator bensin mentok di kiri.
Tanpa di undang, tiba-tiba saja sebuah mobil derek liar dengan 4 orang operatornya yang kekar, tinggi besar dengan akar bahar melingkar di lengan, dengan tenangnya mengangkat paksa saya ke kursi penumpang di sebelah kiri, sedangkan mereka tanpa bimbang dan ragu, mengambil alih kemudi sampai di pom bensin dengan “ongkos” tidak sukarela sebesar Rp. 350.000,- tanpa bisa diganggu-gugat!

Kesimpulan :
I. Mungkin saya masih bisa menambah panjang daftar kendala bagi pengemudi stroke, tergantung dari kelebihan maupun kekurangan yang dimiliki oleh masing-masing IPS, yang satu dengan yang lain tidaklah sama.
II. Dari ke-13 pengemudi stroke, 3 orang di antaranya telah berhenti mengemudi dengan berbagai alasan, antara lain : 1. Kapok karena ditabrak metromini dari samping, 2. Merasa tidak nyaman dan takut mengalami stress, karena kondisi lalu lintas kota Jakarta yang semakin padat, semrawut, seolah tanpa disiplin, 3. “Ah ngapain repot-repot, saya kan masih sanggup membayar gaji sopir ?”.
III. Dengan mengetahui berbagai kendala tersebut dan menyadari segala kemungkinan akibat yang mengancam kepada setiap IPS yang masih bisa, atau berminat untuk nyetir lagi, akan dapat menentukan sendiri manfaat yang diperoleh, dibandingkan dengan besarnya resiko yang mengancam, sehingga akhirnya dapat memutuskan berhenti, atau terus menjadi pengemudi stroke (stroke-driver)
IV. Apabila setelah membaca tulisan ini, jika anda sebagai seorang Insan Pasca Stroke masih juga berani nyetir mobil, bisa berarti bahwa anda :
1. Memiliki keyakinan akan kemampuan dan percaya diri yang kuat;
2. Menganggap bahwa manfaat dari nyetir mobil masih lebih besar daripada bahayanya;
3. kemungkinan ketiga, yaitu anda termasuk kategori orang yang over-PD, alias nekat !.
Dan akhirnya, sebagai tambahan informasi, berikut ini saya sampaikan beberapa tips yang mungkin berguna bagi keselamatan dan kenyamanan anda sebagai pengemudi stroke :
1. Sebelum naik mobil dan duduk di belakang setir, pastikan dahulu bahwa air radiator, air aki, oli rem, oli mesin, oli power steering, terisi dengan cukup pada batas yang normal, yaitu sedikit diatas batas minimum dan sedikit dibawah batas maksimum dan periksa keempat ban mobil anda tidak kekurangan maupun kelebihan tekanan angin, yang cukup di taksir dengan kasat mata, karena jika kekurangan tekanan, bisa berakibat kempes di perjalanan, sedangkan jika kelebihan tekanan angin dapat membuat perjalanan menjadi tidak nyaman akibat bantingan ban yang terlalu keras dan kaku, bahkan pada perjalanan yang jauh semisal keluar kota dengan kecepatan tinggi, dapat menyebabkan naikknya suhu udara dalam ban yang dapat mengakibatkan meledaknya ban mobil kita.
2. Pemeriksaan kondisi mobil tersebut sebaiknya dijadikan kegiatan rutin kita, misalnya setiap hari Sabtu atau Minggu yang kita lakukan sendiri, sehingga kondisi mobil akan terpantau dan terpelihara dengan baik, bahkan mungkin akan dapat menjalin “suatu hubungan harmonis”, semacam “saling pengertian antara mobil dengan kita sebagai pengemudi.
3. Setelah duduk dibelakang setir, periksalah posisi ketiga kaca spion : tengah, kiri dan kanan, jika ada yang kurang baik, perbaikilah posisinya : spion tengah dan kanan dapat di koreksi langsung oleh tangan kita yang sehat, sedangkan kaca spion kiri dapat dikoreksi dengan bantuan tongkat/walking stick yang sebaiknya selalu kita bawa dan disimpan dalam mobil pada tempat yang mudah dijangkau oleh tangan yang sehat, sehingga akan memudahkan jika sewaktu-waktu perlu untuk mengoreksi posisi kaca spion kiri yang memang sering berubah baik karena terpaan angin sewaktu mobil meluncur kencang, maupun karena tersenggol kendaraan lain atau oran yang lewat, bahkan mungkin dalam keadaan darurat/terdesak, tongkat ini dapat pula dimanfaatkan sebagai alat untuk membela diri.
4. Pemanasan awal : Starterlah dan panaskan mesin mobil, sekurang-kurangnya selama 3 menit, yaitu 1 menit pertama pada putaran mesin sekitar 2000 RPM dan 2 menit berikutnya pada putaran mesin stasioner, yaitu sekitar 1000 RPM (Rotasi per menit). Sementara itu pasanglah sabuk pengaman bagi pengemudin dan penumpang disamping kiri (jika ada) dan perhatikanlah semua jarum serta lampu indikator pada dashboard, apakah semuanya menunjukkan kondisi yang seharusnya, yang berarti bensin cukup, alternator mengisi aki dengan baik, demikian pula dengan semua lampu besar, kecil, sein (richting), rem tangan dan hazard, barulah kita melakukan pemanasan mesin yang sebenarnya, (pemanasan tahap kedua) yaitu dengan cara menjalankan mobil perlahan-lahan, hati-hati dan lembut (smooth n gentle), serta batasilah kecepatan mobil dengan membatasi putaran mesin pada maksimum 2000 RPM selama sekitar 10 menit, sehingga pemanasan itu benar-benar merata ke setiap bagian mobil, bukan hanya di sekitar block mesin, crankshaft saja, melainkan sampai ke setiap bagian mobil yang bergerak, sehingga seolah-olah secara bertahap memanaskan seluruh tulang-belulang, sendi-sendi, engsel dan syaraf mobil kita !
Setelah tahap pemanasan mesin mobil ini selesai, maka kita dapat meluncurkan mobil pada kecepatan yang sesuai dengan kebutuhan, bukan keinginan kita. Jika kita mengabaikan prosedur pemanasan mobil tersebut, semisal di pagi hari kita langsung memacu mobil melebihi RPM 2000, maka tidaklah mengherankan mesin mobil bisa tiba-tiba saja mati tanpa diketahui apa penyebabnya. Apabila hal itu terjadi, jangan langsung mobil di starter lagi, tapi bersabarlah antara 2-3 menit, barulah di starter lagi dan ulangi pemanasan tahap kedua dengan memperhatikan cara menjalankan mobil dengan baik yaitu injaklah pedal gas dan pedal rem mobil sesuai dengan kebutuhan (bukan keinginan) sehingga semua penumpang akan merasa nyaman, tidak tersentak ketika di gas dan terhenyak ketika di rem, kecuali jika memang situasi dan kondisinya membutuhkan !
5. Batasilah kecepatan mobil dalam kota dengan maksimum RPM 3000, karena dengan putaran / rotasi mesin 3000 per menit ini pun kita akan dapat meluncur antara 20 sampai 80 km/jam yang sudah mencapai batas kecepatan maksimum dalam kota sedangkan di luar kota, kita dapat membatasi kecepatan mobil dengan 4000 RPM yang berarti dapat meraih kecepatan sampai 120 km/jam yang sudah melampaui kecepatan maksimum di jalan tol yang sebaiknya jangan kita lakukan sebagai pengemudi stroke demi keselamatan, kenyamanan mengemudi dan pemborosan bensin, piringan dan kampas rem serta ban mobil kita yang dari tahun ke tahun harganya semakin melambung tinggi.
Akhirnya saya ucapkan selamat menikmati perjalanan anda dan meskipun terbatas dari dan untuk Insan Pasca Stroke, tetapi saya harapkan bahwa tulisan ini ada manfaattnya.

H. Berry Tanukusuma. 07.05.07.

This entry was posted in Pemberdayaan IPS. Bookmark the permalink.

One Response to PEYANDANG STROKE BISA NYETIR LAGI; TAPI AWAS !!!

  1. yohanes says:

    BAGAIMANA GEJALA AWALNYA ORANG KENA STROKE ? DAN BAGAIMANA TERJADINYA STROKE ITU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s