Terapi Sel Induk, Dibayangi Masalah Etika

September 10, 2007 · 1 Comment


Embrio
Terapi Sel Induk, Dibayangi Masalah Etika (Kompas 17 november 2006)

Riset stem cell (sel induk) menjanjikan terapi yang sangat mengagumkan. Bahkan, banyak orang optimistis riset ini akan merombak total cara pengobatan yang ada sekarang. Akan tetapi, riset stem cell, khususnya sel induk dari embrio, masih berhadapan dengan permasalahan etis yang sangat besar.
Salah satu tujuan dibuat sel induk adalah untuk keperluan riset agar para ahli makin mengenali proses perkembangan awal kehidupan manusia yang tidak dapat diamati di rahim. Sel induk juga digunakan untuk riset, percobaan obat-obat baru untuk mengetahui kemujarabannya beserta efek sampingnya, dan terapi gen.

 

Menurut Dr CB Kusmaryanto SCJ dalam bukunya berjudul Sel Abadi dengan Seribu Janji Terapi, sel induk merupakan sel yang tidak atau belum terspesialisasi, sel awal mula, dalam berkembang biak melalui pembelahan sel dalam waktu lama. Sebab, sel ini dalam tahap awal perkembangan embrio manusia menjadi sel awal mula yang menumbuhkan semua organ tubuh manusia.

 

Sel induk memiliki kemampuan untuk berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel matang, misalnya sel saraf, sel otot jantung, sel otot rangka, dan sel pankreas. Sel induk juga mampu meregenerasi dirinya sendiri. Menurut The Official National Institute of Health Resource for Stem Cell Research, sel induk ini ditemukan dalam berbagai jaringan tubuh.

 

Berdasarkan sumbernya, sel induk dibagi menjadi zigot, yaitu tahap sesaat setelah sperma bertemu sel telur. Adapun sel stem embrionik adalah sel yang diambil dari inner cell mass, suatu kumpulan sel yang terletak di satu sisi blastocyst yang berusia lima hari dan terdiri atas seratus sel. Sel ini dapat berkembang biak dalam media kultur optimal menjadi berbagai sel, seperti sel jantung, sel kulit, dan saraf.

 

Sumber lain adalah sel stem dewasa, yakni sel induk yang terdapat di semua organ tubuh, terutama di dalam sumsum tulang dan berfungsi untuk memperbaiki jaringan yang mengalami kerusakan. Tubuh kita mengalami perusakan oleh berbagai faktor dan semua kerusakan yang mengakibatkan kematian jaringan dan sel akan dibersihkan. Sel stem dewasa dapat diambil dari fetus, sumsum tulang, dan darah tali pusat.

 

Sel induk embrionik maupun sel induk dewasa sangat besar potensinya untuk mengobati berbagai penyakit degeneratif, seperti infrak jantung, stroke, parkinson, diabetes, berbagai macam kanker; terutama kanker darah dan osteoarthritis. Sel stem embrionik sangat plastis dan mudah dikembangkan menjadi berbagai macam jaringan sel sehingga dapat dipakai untuk transplantasi jaringan yang rusak.

 

Keuntungan sel induk dari embrio di antaranya ia mudah didapat dari klinik fertilitas, bersifat pluripoten sehingga dapat berdiferensiasi menjadi segala jenis sel dalam tubuh, berumur panjang karena dapat berpoliferasi beratus kali lipat pada kultur, reaksi penolakan juga rendah. Namun, sel induk ini berisiko menimbulkan kanker jika terkontaminasi, berpotensi menimbulkan penolakan, dan secara etika sangat kontroversial.

 

Sementara sel induk dewasa dapat diambil dari sel pasien sendiri sehingga menghindari penolakan imun, sudah terspesialisasi sehingga induksi jadi lebih sederhana dan secara etika tidak ada masalah. Kerugiannya, sel induk dewasa ini jumlahnya sedikit, sangat jarang ditemukan pada jaringan matur, masa hidupnya tidak selama sel induk dari embrio, dan bersifat multipoten sehingga diferensiasinya tidak seluas sel induk dari embrio.

 

Sejauh ini, penggunaan sel stem embrionik masih dibayangi masalah etika dan dilarang di beberapa negara, seperti di Amerika Serikat dan Perancis. Pemerintah Federal Amerika Serikat melarang pendanaan penelitian yang menggunakan sel induk berasal dari embrio, tetapi tidak melarang penelitian itu sendiri. Hal ini menyebabkan penelitian dilakukan pihak swasta tanpa pengawasan yang baik.

 

Namun, di beberapa negara, seperti Singapura, Korea, dan India, penggunaan sel stem embrionik manusia untuk kedokteran regeneratif diperbolehkan. Kanada membolehkan penggunaan embrio sisa bayi tabung untuk penelitian sel induk. Swedia mendukung kegiatan pengklonan embrio untuk tujuan pengobatan. Di Inggris, pihak swasta diperbolehkan membuat sel induk dari embrio.

 

Bahkan, Singapura menanamkan modal dalam upaya penelitian sel induk yang berasal dari embrio sebesar 300 juta dollar AS dengan mengembangkan Biopolis, suatu taman ilmu yang modern dengan tujuan khusus penelitian sel induk. Di Singapura juga telah didirikan suatu bank penyimpanan darah tali pusat.

 

Ketua Kelompok Kerja Stem Cell Komisi Bioetika Nasional MK Tadjudin menyatakan bahwa sumber sel induk berupa embrio dari hasil abortus, zigot sisa dan hasil pengklonan. Hal ini menimbulkan berbagai masalah etika, seperti apakah penelitian embrio manusia secara moral dapat dipertanggungjawabkan: apakah penelitian yang menyebabkan kematian embrio itu melanggar hak asasi manusia dan berkurangnya penghormatan pada makhluk hidup.

 

“Suatu keputusan etika yang benar hanya dapat diambil dengan mengetahui dasar ilmiah proses yang dilakukan,” kata Tadjudin menambahkan. Diakui, banyak harapan yang timbul dari penelitian sel induk dari embrio karena sel ini berpotensi berkembang jadi berbagai jenis sel yang menyusun aneka jenis organ tubuh.

 

Terus diperdebatkan

 

Dewasa ini sudah ada sejumlah peneliti melaporkan suatu cara memperoleh embrio yang etis, antara lain dengan cara membuat embrio partenogenetik dan melalui transfer inti yang diubah. Ini disebut pembuatan embrio yang etis. Pembentukannya dilakukan dengan penyuntikan suatu protein sperma pada sel telur yang memicu proses fertilisasi dan sel telur mulai membelah.

 

Pembelahan sel telur ini hanya dapat berkembang sampai stadium blastosis dan sel induk embrio kemudian dapat dipanen. Pada transfer inti yang diubah dilakukan transfer inti dengan DNA yang sudah diubah sehingga hasil fertilisasi tidak dapat berkembang jadi embrio atau fetus. Ia berhenti pada stadium blastosis. Menurut pendukung gagasan ini, gumpalan sel yang terbentuk tidak dapat disebut embrio karena tidak sempurna.

 

“Pengklonan embrio manusia untuk memperoleh sel induk merupakan isu yang sangat kontroversial sebab berhubungan dengan isu awal kehidupan dan penghormatan terhadap kehidupan,” tuturnya. Pengklonan embrio manusia untuk memperoleh sel induk menimbulkan kontroversi lantaran berhubungan dengan pengklonan manusia atau pengklonan reproduksi yang ditentang semua agama.

 

Dalam proses pemanenan sel induk dari embrio terjadi kerusakan pada embrio yang menyebabkannya mati. Pandangan bahwa embrio mempunyai status moral sama dengan manusia menyebabkan hal ini sulit diterima. Karena itu, pembuatan embrio untuk tujuan penelitian merupakan hal yang tidak dapat diterima banyak pihak.

 

Perdebatan tentang status moral embrio berkisar tentang apakah embrio harus diperlakukan sebagai manusia atau sesuatu yang berpotensi sebagai manusia, atau sebagai jaringan hidup. “Di sini perlu kejelasan antara apa yang dimaksud dengan hidup dan kehidupan. Ditinjau dari sudut biologi, tidak jelas apakah embrio yang hidup dapat dianggap sebagai kehidupan,” kata Tadjudin.

 

Pandangan yang moderat menganggap suatu embrio berhak mendapat penghormatan sesuai dengan tingkat perkembangannya. Semakin tua usia embrio, kian tinggi tingkat penghormatan yang diberikan.

 

Pandangan liberal menganggap embrio pada stadium blastosis hanya sebagai gumpalan sel dan belum merupakan manusia sehingga dapat dipakai untuk penelitian. Namun, pandangan konservatif menganggap blastosis sebagai makhluk hidup.

 

Salah satu cara untuk menghindari masalah etika penggunaan embrio manusia adalah dengan eksperimen pengklonan lintas spesies. Teknologi ini masih dikembangkan dan belum banyak dikaji dari segi ilmiah dan etika.

 

“Perlu ada peraturan perundangan yang dibuat secara nasional dan tiap lembaga penelitian perlu membuat peraturan intern. Hal ini harus disertai pengawasan tentang penelitian sel induk ini,” ujar Tadjudin.

 

“Sosialisasi dan pendidikan masyarakat tentang stem cell harus dilakukan,” tuturnya menambahkan.
Keresahan di kalangan masyarakat dapat timbul akibat ketidaktahuan. Oleh karena itu, perlu ada sosialisasi dan pendudukan masyarakat tentang penelitian sel induk secara jujur. Sebab, ada kecenderungan untuk melaporkan keberhasilan dan menyembunyikan kegagalan. ***

Penulis: Evy Rachmawati

sumber : http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0611/17/084322.htm

→ 1 CommentCategories: UMUM

Jumlah kematian Akibat Stroke

August 31, 2007 · Leave a Comment

VIEW DATA:   Totals     Per capita  
Definition Source Printable version
 
    Bar Graph     Map  

Rank Countries Amount (top to bottom)
#1 Georgia: 1,790.68 deaths per 1 million peo  
#2 Romania: 1,504.79 deaths per 1 million peo  
#3 Croatia: 1,405.92 deaths per 1 million peo  
#4 Latvia: 966.376 deaths per 1 million peo  
#5 Moldova: 835.241 deaths per 1 million peo  
#6 Czech Republic: 785.08 deaths per 1 million peo  
#7 Kyrgyzstan: 681.112 deaths per 1 million peo  
#8 Barbados: 555.815 deaths per 1 million peo  
#9 Slovenia: 529.09 deaths per 1 million peo  
#10 Norway: 527.324 deaths per 1 million peo  
#11 Malta: 499.33 deaths per 1 million peo  
#12 Germany: 493.394 deaths per 1 million peo  
#13 Poland: 480.056 deaths per 1 million peo  
#14 Netherlands: 468.824 deaths per 1 million peo  
#15 Luxembourg: 467.378 deaths per 1 million peo  
#16 Spain: 466.672 deaths per 1 million peo  
#17 Austria: 455.101 deaths per 1 million peo  
#18 Denmark: 449.19 deaths per 1 million peo  
#19 South Africa: 354.794 deaths per 1 million peo  
#20 Slovakia: 330.51 deaths per 1 million peo  
#21 Uruguay: 311.768 deaths per 1 million peo  
#22 United States: 305.609 deaths per 1 million peo  
#23 Sweden: 291.491 deaths per 1 million peo  
#24 New Zealand: 286.989 deaths per 1 million peo  
#25 Argentina: 282.867 deaths per 1 million peo  
#26 Canada: 272.154 deaths per 1 million peo  
#27 Australia: 261.921 deaths per 1 million peo  
#28 Puerto Rico: 260.547 deaths per 1 million peo  
#29 Iceland: 242.639 deaths per 1 million peo  
#30 Brazil: 234.675 deaths per 1 million peo  
#31 Korea, South: 230.916 deaths per 1 million peo  
#32 Chile: 214.004 deaths per 1 million peo  
#33 Belize: 209.902 deaths per 1 million peo  
#34 Cayman Islands: 180.709 deaths per 1 million peo  
#35 Bahamas, The: 178.932 deaths per 1 million peo  
#36 Israel: 170.942 deaths per 1 million peo  
#37 Paraguay: 146.975 deaths per 1 million peo  
#38 Hungary: 144.799 deaths per 1 million peo  
#39 Estonia: 138.785 deaths per 1 million peo  
#40 El Salvador: 110.664 deaths per 1 million peo  
#41 Lithuania: 109.536 deaths per 1 million peo  
#42 Dominican Republic: 104.862 deaths per 1 million peo  
#43 Costa Rica: 89.8904 deaths per 1 million peo  
#44 Nicaragua: 88.0146 deaths per 1 million peo  
#45 Ecuador: 81.7121 deaths per 1 million peo  
#46 Venezuela: 77.0049 deaths per 1 million peo  
#47 Colombia: 71.3787 deaths per 1 million peo  
#48 Qatar: 54.458 deaths per 1 million peo  
#49 United Kingdom: 48.0965 deaths per 1 million peo  
#50 Bahrain: 43.5828 deaths per 1 million peo  
#51 Panama: 39.172 deaths per 1 million peo  
#52 Finland: 36.1861 deaths per 1 million peo  
#53 Mexico: 30.7901 deaths per 1 million peo  
#54 Cuba: 23.7948 deaths per 1 million peo  
#55 Peru: 16.9018 deaths per 1 million peo  
#56 Egypt: 13.328 deaths per 1 million peo  
#57 Thailand: 11.8562 deaths per 1 million peo  
#58 Japan: 9.00979 deaths per 1 million peo  
#59 Kuwait: 2.99658 deaths per 1 million peo  
  Weighted average: 330.1 deaths per 1 million peo  

→ Leave a CommentCategories: UMUM

Pelecehan terhadap Wasit Indonesia di Malaysia «

August 30, 2007 · Leave a Comment

→ Leave a CommentCategories: UMUM

Pelecehan terhadap Wasit Indonesia di Malaysia «

August 30, 2007 · Leave a Comment

→ Leave a CommentCategories: UMUM

Penanganan Stroke dengan metode East Met West

August 27, 2007 · 4 Comments

Penanganan Stroke dengan metode East Met West

Hari Rabu, tanggal 22 Agustus yang lalu, saya mengikuti seminar yang menurut saya judulnya menarik. Entah karena keinginan say untuk bisa melompat dan berlari lagi bebas dari stroke ataukah judul seminar yang lain dari yang biasa saya dengar di telinga yang umumnya memuat nuansa iklan yang kuat. Namun kali ini walaupun harus merogoh kocek 25 ribu (50 ribu untuk IPS-Insan Pasca Stroke dan Pendampingnya), banyak ilmu yang bisa didapat, misalnya walaupun tes darah saya bagus, bila butir2 darahnya saling berlengketan perlu diwaspadai untuk berhati-hati terkena stroke ulang. Disana didepan ruang seminar ada test darah dimana saya bisa melihat kondisi butiran darah merah saya melalui sebuah microscope yang hasilnya ditayangkan melalui sebuah monitor televisi sedgede cendela. Memang terlihat gambar butiran darah saya yang saling berlengketan seperti magnit bulat yang saling menarik dan menempel. Sedangkan darah isteri saya yang ditest, terlihat juga ada perlengketan walaupun sedikit. Namun disela-sela butiran nya ada sesuatu yang berpendar seperti lampu. Kata pertugas stand gambar ini menunjukkan adanya kandungan asam urat dalam darah yang tinggi. Heran juga, padahal test asam urat sebelumnya terkandung 9,7 mg/dL tidak tampak sesuatu yang berpendar. Padahal test darah isteri saya menunjukkan angka 6,3 mg/dL jelas terlihat gambar asam urat yang berpendar tadi. Heran yaaa…? Sampai-sampai kawan duduk sebelah saya berfikiran negatif bahwa bisa-bisa gambar dari mikroskop yang di tv adalah berupa rekaman yang dibuat sebelumnya. Namun semua pemikiran tadi ditampik oleh petugas bahwa yang tampak saat itu sadalah gambar hasil mikroskop secara langsung.


Menurut kamus Sumber yang saya baca, Asam Urat yang tinggi atau disebut “Hyperuricemia” (American English), atau “hyperuricaemia” (British English), adalah kadar asam urat yang tinggi dalam darah. Batas atasnya yang normal adalah 360 micromol/L (6 mg/dL) untuk wanita dan 400 micromol/L (6.8 mg/dL) untuk pria. [Chizyński K, Rózycka M (2005). "Hyperuricemia" , Pol. Merkur. Lekarski 19 (113): 693-6].

Hyperuricemia atau Asam urat tinggi, menurut salah satu buku yang saya baca,bisa disebabkan oleh percepatan pembentukan asam urat atau uric acid melalui metabolisme purine karena keluaran yang rusak dari ginjal atau bisa karena tingginya tingkat fructose didalam makanan diet
Sedangkan Purine kata orang pintar adalah merupakan heterocyclic aromatic organic compound, yang terdiri dari sebuah pyrimidine ring yang berfusi ke sebuah imidazole ring. Purines membentuk satu atau dua group berbasis nitrogen, sedangkan Pyrimidines membentuk grup yang lain. Basis ini membentuk bagian yang krusial pada kedua deoxyribonucleotides dan ribonucleotides, dan basis dari “universal genetic code”.
Heterocyclic compounds adalah organic compounds yang terdiri dari sebuah struktur ring berisi atom2 untuk melengkapi atom carbon, seperti sulfur, oxygen atau nitrogen,sebagai bagian dari ring (cincin). Mereka bisa trerbuat dari non-aromatic rings yang sederhana seperti .beberapa contoh adalah pyridine (C5H5N), pyrimidine (C4H4N2) dan dioxane (C4H8O2)
Pyrimidine
merupakan heterocyclic aromatic organic compound seperti benzene dan pyridine, terditri dari dua atom nitrogen pada posisi 1 dan 3 dari 6 anggota ring.dan merupan isomeric dari bentuk lain diazine.
Ketua Panitia Seminar Penanganan Stroke dengan metode East Met West Dr Hardi Pranata mengatakan hal itu beberapa waktu lalu, di Jakarta. Seminar diselenggarakan Nusantara Medical Center selain mendatangkan pakar-pakar dari dalam negeri juga pakar pengobatan dari Beijing, Cina.
Menurut Dr Hardi, saat ini metode pengobatan dan penanganan stroke bakan lagi hanya mengandalkan pengobatan medis (barat) tapi juga mengedepankan pengobatan tradisional (timur) yeng telah terbukti dan diperkenalkan di Tiongkok ribuan tahun lalu.
”Biasanya keluarga atau masyarakat itulah yang mengetahui pertama kali seseorang menderita suatu penyakit. Dengan mengetahui gejalanya, masyarkat bisa langsung membawa penderita ke rumah sakit begitu mendapati gejala seperti stroke,” katanya.
Jadi, bila ada salah satu anggota keluarga atau tetangganya menderita kebas di wajah dan tangan, kepala pusing luar biasa, atau mata buram, anggap saja itu sebagai gejala stroke dan segera larikan ke unit stroke. Karena kesembuhan stroke ditentukan oleh kecepatan penanganan dan pengobatan, kalau setelah di rumah sakit ternyata bukan stroke tidak apa-apa yang penting sudah mendapat penanganan di rumah sakit.
Cepat tanggap terhadap stroke juga harus dimiliki oleh paramedis di rumah sakit. Percuma saja di bawa ke rumah sakit, kalau tenaga kesehatan yang ada di rumah sakit tidak tanggap terhadap penyakit ini, sehingga periode emas penanganan stroke yang hanya tiga atau empat jam hilang dengan begitu saja.
Penyebab stroke
Penyebab terjadinya stroke terbagi menjadi dua bagian ada yang tidak bisa dicegah dan ada yang bisa dicegah. Khusus yang tidak bisa dicegah seperti faktor genetik dan penyakit bawaan, sedangkan yang bisa dicegah lebih banyak disebabkan oleh pola hidup dan gaya hidup, seperti stress dan pola makan yang tidak sehat, sehingga menyebabkan terjadinya sumbatan darah ke otak dan gangguan kardiovaskuler lainnya.
Untuk memgatasi sumbatan aliran darah keotak selain dengan obat-obatan medis, ternyata dalam pengobatan timur telah ditemukan juga manfaat cacing tanah yang telah di proses bersih, karena di dalam cacing tanah ada kandungan enzim yang dapat mencairkan gumpalan darah yang tersumbat. Selain itu digunakan juga kacang kedelai melalui proses fermentasi yang di sebut dengan Nato, berfungsi sama dengan cacing tanah.
”Karenanya untuk pencegahan stroke, selain kita harus menghindari makan-makanan yang berasal dari daging merah, sebaiknya kita harus memperbanyak mengonsumsi tahu dan tempe yang bahan bakunya dari kacang kedelai,” kata Hardi Pranata.

→ 4 CommentsCategories: UMUM