Jakata (Bulletin PNPS), Dalam rangka memperingati hari Stroke sedunia tanggal 24 Juni 2009,Himpunan Peduli Stroke dan Forum Kerjasama klub Stroke telah mengadakan kerjasama yang ditanda tangani pada tanggal 7 Februari 2009. (more…)
Jakata (Bulletin PNPS), Dalam rangka memperingati hari Stroke sedunia tanggal 24 Juni 2009,Himpunan Peduli Stroke dan Forum Kerjasama klub Stroke telah mengadakan kerjasama yang ditanda tangani pada tanggal 7 Februari 2009. (more…)
Categories: KS-KLINIK KARMEL · KS-PULOGADUNG · KS-RS FATMAWATI · KS-RS PERSAHABATAN · KS-RSCM · KS-RSKB BOGOR · KS-RSPP · Klub Stroke
Tagged: PERKEMAHAN NASIONAL
Berita
Meski menjadi insan pasca stroke (IPS) namun tidak mengurangi keinginan Soeripto untuk terus maju. Bahkan, keterbatasan fisik yang dialami tidak menghambat dirinya dalam mengajar di Pasca Sarjana Universitas Indonesia Program Kedokteran Kerja. Bukan hanya itu, keinginannya yang besar untuk mengembangkan Klub Stroke Berbasis Masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, sebagai wujud kepeduliannya terhadap tingginya angka stroke di daerahnya pun terwujud.
Meski menjadi insan pasca stroke (IPS) namun tidak mengurangi keinginan Soeripto untuk terus maju. Bahkan, keterbatasan fisik yang dialami tidak menghambat dirinya dalam mengajar di Pasca Sarjana Universitas Indonesia Program Kedokteran Kerja. Bukan hanya itu, keinginannya yang besar untuk mengembangkan Klub Stroke Berbasis Masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, sebagai wujud kepeduliannya terhadap tingginya angka stroke di daerahnya pun terwujud.
Pekerjaannya sebagai Kepala Pusat Hiperkes yang selalu bergelut dengan laboratorium dan kesehatan pekerja menyebabkan ia banyak tahu tentang berbagai penyakit dan penanggulangannya. Akibat terlalu percaya diri, dan selalu melakukan berbagai treatmil sendiri bila merasa badan agak kurang sehat, menyebabkan dirinya harus menerima sendiri akibatnya, yaitu mengalami serangan stroke.
Siapa sangka kalau perilakunya yang tidak mau check up, padahal ia mendapat jatah setiap enam bulan ini justru mengakibatkan dirinya mengalami kelumpuhan pada anggota tubuh sebelah kanan karena serangan stroke yang menimpanya pada 5 Mei 1993 lalu. ?Stroke yang menimpa saya disebabkan Emboli (penyumbatan) darah pada otak sebelah kiri,? kata Soeripto.
Ditambahkannya, sebelum terjadi penyumbatan pada otak sebelah kiri yang menyebabkan kelumpuhan pada anggota tubuh sebelah kanan, ia pernah mengalami Trans Iskemick Attack (TIA) ketika menghadiri Kongres ILO di India. Namun hal itu hanya berlangsung sejenak, setelah pulang ia sehat kembali.
?Kondisi ini saya anggap biasa, dan tidak saya tindak lanjuti dengan pengobatan yang serius, karena pada waktu itu saya belum mengerti kalau apa yang saya alami merupakan suatu gejala serangan stroke,? ungkap Soeripto. Bahkan, kejadian itu berulang setengah bulan kemudian, yaitu pada bulan Februari ketika sedang menghadiri rapat di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, serangan tersebut berlangsung lebih kurang setengah menit.
?Kejadian itu tidak membuat saya waspada, bahkan ketika kembali saya masih dapat mengendarai mobil sendiri dengan kecepatan tinggi,? ujarnya. ?Bukan hanya itu, setiba di kantor saya juga harus menghadiri pertemuan untuk memfasilitasi antara penduduk dengan PT Timah, namun waktu berdiri saya merasa bumi bergoyang dan bergerak, karena saya hampir terjatuh, saya langsung dibawa ke dokter perusahaan untuk menjalani pemeriksaan, oleh staf dokter dianjurkan untuk dirawat di rumah sakit.?
Pada saat masuk rumah sakit tekanan darahnya sangat rendah, yaitu 70/40, di ruang UGD setelah mendapat pemeriksaan dari dokter jaga ia tidak merasakan apa-apa, bahkan Soeripto sempat jalan-jalan mundar mandir sambil menunggu tempat perawatan. Setelah masuk ruang perawatan ia merasa diri sangat sehat, baru keesokan harinya sebelah anggota tubuh tidak dapat digerakkan.
Sejak dirawat semalaman saya baru ketemu dokter spesialis syaraf rumah sakit Pukul 12.00 Siang, berarti Soeripto sudah kehilangan Golden Period. Akibatnya ia harus mengalami kelumpuhan sebelah kanan selama seumur hidup. Kalau ditanya perasaan sebenarnya ia sangat kecewa. Namun dorongan isteri dan keluarga yang begitu besar, keadaan ini tidak membuat Soeripto berkecil hati bahkan memacu semangatnya dapat hidup mandiri.
?Sepulang dari rumah sakit, saya masih tetap menjalankan aktivitas hidup seperti biasa, bahkan saya masih bekerja sampai akhirnya pensiun pada tahun 2003 dalam usia 65 tahun. Untuk menunjang proses rehabilitasi saya juga aktif menjadi anggota klub stroke rumah sakit tempat saya di rawat.?
Kepeduliannya terhadap semakin meningkatnya kasus stroke, di mana kerap merenggut jiwa yang banyak menimpa tetangga sekitar rumahnya di Pulomas, mendorong dirinya dan beberapa orang untuk mendirikan klub stroke berbasis masyarakat. Tekad ini mendapat sambutan dari Kepala Kelurahan Pulogadung dengan menyediakan sarana bagi kegiatan klub Stroke ini. Budi Kusumanto
Categories: KS-PULOGADUNG