Jakata (Bulletin PNPS), Dalam rangka memperingati hari Stroke sedunia tanggal 24 Juni 2009,Himpunan Peduli Stroke dan Forum Kerjasama klub Stroke telah mengadakan kerjasama yang ditanda tangani pada tanggal 7 Februari 2009. (more…)
Jakata (Bulletin PNPS), Dalam rangka memperingati hari Stroke sedunia tanggal 24 Juni 2009,Himpunan Peduli Stroke dan Forum Kerjasama klub Stroke telah mengadakan kerjasama yang ditanda tangani pada tanggal 7 Februari 2009. (more…)
Categories: KS-KLINIK KARMEL · KS-PULOGADUNG · KS-RS FATMAWATI · KS-RS PERSAHABATAN · KS-RSCM · KS-RSKB BOGOR · KS-RSPP · Klub Stroke
Tagged: PERKEMAHAN NASIONAL
Stroke selain menimbulkan kecacatan, juga menimbulkan dampak sosial ekonomi yang sangat besar. Karena, biaya medis untuk perawatan dan pengobatannya sangat tinggi, dan akibat kecacatannya banyak pasien pasca stroke yang tidak dapat bekerja kembali seperti sediakala. Sehingga, tidak heran jika pasien pasca stroke selain menjadi beban ekonomi keluarganya juga menjadi beban sosial masyarakat karena tidak produktif lagi.
Stroke selain menimbulkan kecacatan, juga menimbulkan dampak sosial ekonomi yang sangat besar. Karena, biaya medis untuk perawatan dan pengobatannya sangat tinggi, dan akibat kecacatannya banyak pasien pasca stroke yang tidak dapat bekerja kembali seperti sediakala. Sehingga, tidak heran jika pasien pasca stroke selain menjadi beban ekonomi keluarganya juga menjadi beban sosial masyarakat karena tidak produktif lagi.
Menurut Dr Jusuf Misbach, serangan stroke menimbulkan keruskaan pada jaringan saraf otak yang dapat mengakibatkan kecacatan, anatra lain berupa kelumpuhan pada separuh badan, terganggunya penglihatan dan pendengaran, berkurangnya daya ingat, kemunduran mental, menurunnya kemampuan berbicara dan berkomunikasi. Bahkan, ada sementara insan pasca stroke yang pada akhir masa penyembuhannya hanya menyandang sedikit kekurangmampuan atau ada yang nyaris pulih seperti sediakala.
Insan pasca stroke harus menghadapi hal ini secara realistis, serta melakukan evaluasi terhadap kemampuan yang masih ada, kemudian memanfaatkan kemampuan yang masih ada ini secara efisien dan optimal.
Rehabilitasi (pemulihan) terhadap insan pasca stroke biasanya dilakukan untuk mengusahakan agar dapat hidup mandiri, pulih kepercayaan dirinya, serta sekurang-kurangnya dapat mengurus kebutuhannya sendiri. Namun dalam kenyataannya banyak insan pasca stroke yang masih dapat mengurus keluarga atau rumah tangganya secara baik, bahkan ada juga yang masih dapat melakukan aktivitas sosial.
Karenanya, insan pasca stroke dianjurkan agar mencari dan menciptakan kesibukan, berkomunikasi atau berkumpul ditengah masyarakat, khususnya sesama insan pasca stroke. ?Dari pertemuan semacam ini banyak diperoleh informasi mengenai keadaan-keadaan yang kurang menyenangkan serta upaya untuk mengatasinya. Hal ini akan lebih besar manfaatnya karena datang dari orang-orang yang menghayati atau mengalami sendiri,? ujar Dr Jusuf Misbach.
Banyak kejadian serangan stroke berakibat jauh lebih fatal, karena rendahnya tingkat pengetahuan tentang stroke dari kalangan insan pasca stroke, keluarga bahkan dari kalangan tenaga kesehatan. Sebuah angket tahun 1995 di Amerika Serikat menyimpulkan hanya 20% masyarakat yang mengetahui gejala stroke dibanding 90% yang mengetahui gejala awal serangan jantung.
Di Indonesia, sekalipun belum pernah dilakukan angket perbandingan semacam itu, namun dapat dipastikan angkanya akan jauh lebih rendah. Oleh karena itu, menurutnya, perlu adanya suatu gerakan ?Masyarakat peduli stroke? yang terdiri dari berbagai kalangan antara lain insan pasca stroke serta keluarganya, tenaga medis, tokoh-tokoh masyarakat, serta unsur-unsur masyarakat lainnya.
Melalui koordinasi Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) khususnya Yastroki Cabang DKI Jakarta, dibentuklah klub-klub stroke yang berbasis pada tempat-tempat pelayanan stroke (rumah sakit, klinik) serta pada tempat-tempat lain yang memungkinkan di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.
Klub stroke ini mempunyai misi yang jelas, yaitu mengusahakan serta memfasilitasi para insan pasca stroke agar pulih kepercayaan dirinya dan dapat hidup mandiri, sehingga memungkinkan untuk dapat melakukan aktivitas sosial di tengah masyarakat, sekurang-kurangnya dapat saling berkomunikasi diantara para pasca stroke itu sendiri, menyebarluaskan pengetahuan yang memadai tentang penyakit stroke, dan melaksanakan kampanye budaya hidup sehat untuk mencegah timbulnya serangan stroke atau stroke ulang.
Sebagai suatu organisasi klub stroke dapat didefinisikan sebagai sekumpulan anggota masyarakat dari suatu basis komunitas tertentu yang secara sukarela berhimpun di bawah koordinasi Yayasan Stroke Indonesia yang sangat peduli terhadap penanggulangan masalah stroke.
Klub stroke sebagai suatu organisasi peranannya terasa semakin berkembang selama lima tahun terakhir ini, khususnya di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Indikasi tentang hal ini mulai kelihatan tatkala diselenggarakan rapat kerja teknis klub stroke se DKI Jakata yang difasilitasi Yayasan Stroke Indonesia Cabang DKI Jakarta.
Klub stroke Rumah sakit Islam Jakarta menjelang usianya yang mencapai Sewindu (8 tahun), akan mencoba mengembangkan serta meningkatkan peran klub stroke (insan pasca stroke) dari sekadar menjadi objek menjadi lebih bersifat subjek, dari sekadar menjadi penonton lebih menjadi pemain, dari sekadar melaksanakan kegiatan yang asal-asalan menjadi kegiatan yang lebih bersifat kajian. Sehingga, mampu menghasilkan berbagai pemikiran dan masukan yang berguna bagi perkembangan klub stroke dan insan pasca stroke khususnya.
Categories: Klub Stroke · Pemberdayaan IPS
Insinyur H Windu Hernowo MM, Ketua Klub Stroke RS Pusat Pertamina, harus mengalami ketidakberdayaan akibat stroke yang menyerangnya pada 28 Desember tahun 2000 lalu. Padahal, waktu itu, jabatan pria kelahiran tahun 1958 ini sedang bagus sebagai Quality Health Savety Envenronment Manager di salah satu perusahaan asing.
Insinyur H Windu Hernowo MM, Ketua Klub Stroke RS Pusat Pertamina, harus mengalami ketidakberdayaan akibat stroke yang menyerangnya pada 28 Desember tahun 2000 lalu. Padahal, waktu itu, jabatan pria kelahiran tahun 1958 ini sedang bagus sebagai Quality Health Savety Envenronment Manager di salah satu perusahaan asing Internasional.
Kejadian nahas itu berawal dari kepergiannya ke Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. ?Pada waktu itu saya cuti ke Malang. Pada sore hari yang cerah itu, saya merasa pegal2, di bahu dan kata kakak saya yang bekerja di RS mulut saya mencong tanda-tanda terkena CVA (Cerebro Vaskular Attack). Karenanya oleh kakak, saya di bawa ke rumah sakit Lavallette, katanya mengenang.
Di rumah sakit ini, ia di tes fungsi gerak tubuh dan saraf motorik tubuh. Hasilnya, fungsi gerak tubuh Ir H Windu dinyatakan masih bagus. Tindakan selanjutnya ia langsung dirawat inap dan mendapat infus.
Setelah menjalani perawatan beberapa hari, ternyata kondisinya bukan bertambah bagus, tapi justru bertambah buruk. Celakanya, ia harus menginap lagi empat hari. Setelah empat hari pun keadaan Windu tambah memburuk. Karenanya atas permintaan konsultan, ia diminta untuk dipindahkan ke Jakarta.
Namun karena tempat ia terserang lebih dekat ke Surabaya, daripada ke Jakarta akhirnya Windu di dipindahkan ke RS Intarnational Surabaya. Di RS ini infus yang lama di buang semua dan diganti dengan cairan infus lain. Tapi, kondisinya sudah benar-benar buruk, karena sebagian tubuhnya sudah lumpuh dan tidak bisa digerakkan lagi.
Di RS International Surabaya Windu dirawat selama 29 hari. Sekian lama dirawat di rumah sakit tersebut tidak mengalami kemajuan, akhirnya dia dipindahkan lagi ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta. Di sini Windu kembali di infus dan mendapat pelayanan standar Indonesia, artinya kalau orang Indonesia bilang bagus ya bagus. ?Setelah menjalani perawatan beberapa lama, akhirnya saya dinyatakan sembuh dan boleh keluar dari RSPP pada 11 Februari 2001,dengan tangan dan kaki kiriyang masih tetap lumppuh”, katanya.
Latihan Fisioterapi
Karena kekeliruan pada saat penanganan awal di Malang, kondisi tubuhnya yang sudah lumpuh sebelah tidak bisa dikembalikan seperti sediakala. Kalau saja pada waktu itu periode emas benar-benar dimanfaatkan sebaik mungkin dengan penanganan yang akurat, kecacatan yang dialami sekarang ini tidak akan terjadi.
Apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Karenanya untuk memaksimalkan anggota tubuh yang lumpuh, sejak di rawat di RSPP dia sangat rajin menjalani latihan fisioterapi. Bahkan, sampai enam bulan setelah keluar dari rumah sakit ini setiap hari tanpa bosan-bosan melakukan latihan fisioterapi.
Latihan fisioterapi yang dijalaninya sampai sekarang sangat dirasakan manfaatnya. Meskipun fisioterapi tak menyembuhkan, tapi sangat membantu untuk melenturkan otot-otot yang kaku, sebagai akibat serangan stroke yang mampu menarik saraf-saraf anggota tubuh lainnya.
?Agar lebih efektif dalam menjalani program-program latihan, saya masuk ke dalam klub stroke RSPP pada 7 April 2001. Selama menjadi anggota klub, sampai akhirnya terpilih sebagai Ketua Klub Stroke RSPP banyak manfaat yang saya dapat. Di antaranya tidak merasa sendiri, mendapat lebih banyak informasi pengobatan yang dilakukan oleh teman-teman senasib, dapat menstabilkan emosi. Karena biasanya insan pasca stroke sangat tidak stabil tingkat emosinya,? paparnya.
Peran keluarga
Peran keluarga bagi proses penyembuhan bagi insan pasca stroke sangat besar. Karena tanpa dukungan keluarga insan pasca stroke tidak mungkin bisa menjalani hidupnya secara baik, biasanya mereka akan dilanda keputusasaan yang berkepanjangan, sebagai akibat terhentinya berbagai aktivitas yang biasa di jalani, juga akibat kecacatan dan keterbatasan dirinya.
?Semula saya juga merasakan untuk apalagi hidup dengan ketidakberdayaan. Tapi berkat dukungan dan semangat dari anggota keluarga, terutama istri dan kakak, semangat hidup saya kembali bangkit dan tidak ada lagi keputusasaan. Bahkan, saking semangatnya untuk bisa sembuh, saya bersedia ditunjuk menjadi ketua klub stroke RSPP,? ucap Windu semangat.
Categories: Klub Stroke