MEMANUSIAKAN MANUSIA (INSAN) PASCA STROKE

Tatkala seorang manusia terkena serangan stroke (stroke attack), maka yang terserang adalah bagian otaknya yang merupakan pusat kendali bagi seluruh tubuh serta fikirannya, besarnya kerusakan pada otak akan mengakibatkan seberapa besar kehilangan-kendalinya atas bagian-bagian tertentu dari tubuh serta fikirannya, namun ia tidak kehilangan akal-budinya, ia tetap seorang manusia dengan akal-budinya.
Akibat kehilangan kendali atas bagian-bagian tertentu dari tubuh serta fikirannya, maka seorang insan pasca stroke mungkin tidak lagi dapat melakukan gerakan secara sempurna pada bagian tubuh tertentu, seperti pada kaki, tangan, mulut dan sebagainya, namun disamping itu ia mungkin juga akan mengalami kemunduran pada aspek-aspek tertentu dari cara berfikirnya, ia bisa saja akan mengalami “kelupaan” memori-memori tertentu dalam hidupnya bahkan mungkin saja ia akan mengalami perubahan-perubahan tertentu pada prilakunya.
Di rumah-sakit rumah-sakit, khususnya di Indonesia, rehabilitasi (pemulihan-kembali) bagi insan pasca stroke berorientasi pada latihan-latihan untuk mengatasi hambatan fisiknya semata, bagaimana berlatih menggerakkan kaki, tangan dan mulut, tetapi latihan-latihan untuk mengatasi hambatan-hambatan non fisiknya hampir sama sekali tidak tersentuh.
Peran insan pasca stroke dalam proses rehabilitasi bagi dirinya sendiri lebih cenderung sebagai obyek dari pada sebagai subyek, ia akan diperlakukan seolah-olah sebagai seseorang yang sudah tidak berdaya lagi yang selalu memerlukan bantuan dan pengarahan orang lain, bagai seorang anak kecil yang harus selalu “diemong” oleh baby-sitter nya.
Rehabilitasi seharusnya berorientasi kepada tercapainya suatu tingkat kemandirian, kepercayaan diri serta produktivitas dari seorang insan pasca stroke, sehingga dapat melakukan aktifitas sosial ditengah masyarakat (salah satu tujuan dari organisasi Klub Stroke) dengan demikian seorang insan pasca stroke akan diperlakukan sebagai seorang manusia yang berakal-budi.
Paradigma yang memerankan insan pasca stroke sebagai obyek semata sudah selayaknya diperbaharui dengan paradigma baru yang lebih memerankan insan pasca stroke sebagai subyek yang berorientasi kepada hambatan fisik maupun hambatan non fisiknya, sehingga seorang insan pasca stroke juga akan memperoleh latihan-latihan motivasi, bagaimana menumbuhkan percaya diri, mengatasi serta menghindari emosi serta latihan-latihan koordinasi ataupun kalkulasi dan sebagainya.
Pada hakekatnya diperlukan sebuah paradigma baru yang lebih memanusiakan manusia (Insan) pasca stroke, sehingga setiap insan pasca stroke akan sadar sesadar-sadarnya, bahwa stroke bukan akhir dari segalanya.