Tommy Hendra W: Kehilangan Golden Period, Akibat Penolakan Rumah Sakit

August 7, 2007 · Leave a Comment

Tommy Hendra W:
Kehilangan ?Golden Period? Akibat Penolakan Rumah Sakit

Karena penolakan rumah sakit, saya kehilangan golden period. Meski tidak sampai kehilangan nyawa, saya harus menanggung kecacatan yang cukup berat selama lebih kurang enam tahun. Itu terjadi setelah saya terkena serangan pertama 18 April 1999 lalu, di saat menghadiri rapat pleno pada usia 56 tahun.

Karena penolakan rumah sakit, saya kehilangan golden period. Meski tidak sampai kehilangan nyawa, saya harus menanggung kecacatan yang cukup berat selama lebih kurang enam tahun. Itu terjadi setelah saya terkena serangan pertama 18 April 1999 lalu, di saat menghadiri rapat pleno pada usia 56 tahun.

Sebenarnya sampai usia 56 tahun saya segar bugar, dan rajin melakukan general check up, karena saya bekerja di sebuah perusahaan penerbangan yang menerapkan general check up cukup ketat kepada karyawannya. Selama bekerja saya tidak pernah mengalami sakit yang berat, sampai akhirnya stroke yang menyebabkan kelumpuhan saya menyerang.
Saya terserang stroke saat sedang menghadiri rapat pleno pada usia 56 tahun. Tiba-tiba tangan dan kaki kanan saya tidak bisa diangkat, mulut mencong dan keringat mengalir dengan deras sampai kemeja yang saya kenakan basah kuyup. Pada saat yang bersamaan kepala rasanya seperti ada cairan mengalir, saya sama sekali tidak tahu kalau saya sedang terkena stroke, karena pengetahuan saya tentang stroke sama sekali tidak ada.
Melihat keadaan saya yang demikian, oleh rekan-rekan peserta rapat saya langsung di bawa ke RS Harapan Kita, dengan pertimbangan dekat dengan kediaman saya. Namun ketika tiba di rumah sakit tersebut saya ditolak, karena sakit yang saya alami bukan karena serangan jantung, melainkan serangan stroke, seperti kekhususan pelayanan rumah sakit ini. Pada saat itu tekanan darah saya mencapai 170/110 pada 2 jam setelah serangan.
Karena rumah sakit pertama yang saya datangi tidak dapat menangani, akhirnya atas kesepakatan keluarga saya dipindahkan ke RS Sint Carolus, di rumah sakit ini saya langsung mendapat cairan infus, sayangnya penanganan neurologis baru saya dapatkan setelah 5-6 jam serangan. Idealnya penanganan yang baik harus saya terima kurang dari 3 jam setelah serangan stroke.
Setelah menjalani pemeriksaan Ct Scan di RS Carolus, baru diketahui saya mengalami pendarahan di otak, jenis stroke ?Hemoragik? Pemulihan awal antara 6-9 bulan adalah ?masa keemasan? rehabilitasi, tergantung kerusakan otak, pusat syaraf yang terkena menentukan kecepatan pemulihan IPS. Ada yang pulih sama sekali, tapi biasanya 5% dari total pasien stroke dan yang lain diklasifikasikan sisa stroke ringan,sedang dan berat (kecacatan).
Upaya pemulihan yang saya jalani selama 6 tahun terus menerus melalui latihan Fisio-teraphy, Occupacy-theraphy, stretching otot yang lemah oleh perawat. Bukan hanya itu, selain latihan saya juga kombinasikan antara pengobatan medis dengan tradisional baik dalam maupun luar negeri, bahkan berbagai suplemen juga saya konsumsi, secara berkesinambungan, namun kondisi sisa stroke (kecacatan saya tetap tergolong agak berat, karena mayoritas motorik saya mengalami kerusakan).
Akibatnya tangan kanan sampai sekarnag masih belum bisa diangkat melewati bahu, pergelangan dan kelima jari-jari tangan belum bisa berfungsi sama sekali. Kaki kanan walaupun bisa berjalan perlahan-lahan sekali, tetapi tekukan lutut (hamstring) sambil jalan belum muncul, pergelangan dan jari-jari kunci belum dapat berfungsi serta angkat paha hanya terbatas 5-6 cm dari lantai. Bukan hanya itu kalau bicara terlalu cepat masih pelo, dan harus perlahan-lahan sekali baru jelas dan tidak sengau.
Dari sekian banyak faktor penyebab serangan stroke, saya terserang serangan stroke ?Hemoragik? yaitu karena faktor keturunan, karena ibu saya juga terkena stroke pada usia 70 tahun karena hipertensi. Selain itu, tekanan darah saya selalu 130/90, sehingga saya gampang emosi dan marah-marah pada usia 30 tahun. Saya juga jarang sekali melakukan kegiatan olah raga.
Kegiatan olah raga baru saya lakukan setelah serangan stroke, bahkan untuk memulihkan kondisi saya sering berolah raga seputar Stadion Utama Senayan sore hari jalan rata-rata 2000-2500 meter. Bagi orang awam, mereka berpikir pasti secara bertahap saya sudah memperoleh kemajuan, padahal stagnasi sisa stroke (cacat)? saya tetap tidak ada perubahan.
Disamping itu saya mengalami ?spastis? kekauan otot, yang tergolong agak berat di kaki terlebioh di tangan kanan saya. Walaupun sudsah 5 kali mengalami suntikan Botox Type A diikuti latihan intensif (FT/OT) ternyata spastis hanya turun sedikit.
Kepada masyarakat umum, agar terhindar dari serangan stroke, hendaknya selalu menerapkan pola hidup sehat. Selain itu, apabila ada di antara keluarga kita yang terserang stroke, untuk tidak lupa memeriksakan diri ke dokter agar bisa dilakukan proses pencegahan. Tommy Hendra W

Categories: KS-KLINIK KARMEL

Ir Soeripto M, DIH – Dirikan Klub Stroke Pulogadung

August 7, 2007 · 3 Comments

Berita

Meski menjadi insan pasca stroke (IPS) namun tidak mengurangi keinginan Soeripto untuk terus maju. Bahkan, keterbatasan fisik yang dialami tidak menghambat dirinya dalam mengajar di Pasca Sarjana Universitas Indonesia Program Kedokteran Kerja. Bukan hanya itu, keinginannya yang besar untuk mengembangkan Klub Stroke Berbasis Masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, sebagai wujud kepeduliannya terhadap tingginya angka stroke di daerahnya pun terwujud.

Meski menjadi insan pasca stroke (IPS) namun tidak mengurangi keinginan Soeripto untuk terus maju. Bahkan, keterbatasan fisik yang dialami tidak menghambat dirinya dalam mengajar di Pasca Sarjana Universitas Indonesia Program Kedokteran Kerja. Bukan hanya itu, keinginannya yang besar untuk mengembangkan Klub Stroke Berbasis Masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, sebagai wujud kepeduliannya terhadap tingginya angka stroke di daerahnya pun terwujud.

Pekerjaannya sebagai Kepala Pusat Hiperkes yang selalu bergelut dengan laboratorium dan kesehatan pekerja menyebabkan ia banyak tahu tentang berbagai penyakit dan penanggulangannya. Akibat terlalu percaya diri, dan selalu melakukan berbagai treatmil sendiri bila merasa badan agak kurang sehat, menyebabkan dirinya harus menerima sendiri akibatnya, yaitu mengalami serangan stroke.
Siapa sangka kalau perilakunya yang tidak mau check up, padahal ia mendapat jatah setiap enam bulan ini justru mengakibatkan dirinya mengalami kelumpuhan pada anggota tubuh sebelah kanan karena serangan stroke yang menimpanya pada 5 Mei 1993 lalu. ?Stroke yang menimpa saya disebabkan Emboli (penyumbatan) darah pada otak sebelah kiri,? kata Soeripto.
Ditambahkannya, sebelum terjadi penyumbatan pada otak sebelah kiri yang menyebabkan kelumpuhan pada anggota tubuh sebelah kanan, ia pernah mengalami Trans Iskemick Attack (TIA) ketika menghadiri Kongres ILO di India. Namun hal itu hanya berlangsung sejenak, setelah pulang ia sehat kembali.
?Kondisi ini saya anggap biasa, dan tidak saya tindak lanjuti dengan pengobatan yang serius, karena pada waktu itu saya belum mengerti kalau apa yang saya alami merupakan suatu gejala serangan stroke,? ungkap Soeripto. Bahkan, kejadian itu berulang setengah bulan kemudian, yaitu pada bulan Februari ketika sedang menghadiri rapat di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, serangan tersebut berlangsung lebih kurang setengah menit.
?Kejadian itu tidak membuat saya waspada, bahkan ketika kembali saya masih dapat mengendarai mobil sendiri dengan kecepatan tinggi,? ujarnya. ?Bukan hanya itu, setiba di kantor saya juga harus menghadiri pertemuan untuk memfasilitasi antara penduduk dengan PT Timah, namun waktu berdiri saya merasa bumi bergoyang dan bergerak, karena saya hampir terjatuh, saya langsung dibawa ke dokter perusahaan untuk menjalani pemeriksaan, oleh staf dokter dianjurkan untuk dirawat di rumah sakit.?
Pada saat masuk rumah sakit tekanan darahnya sangat rendah, yaitu 70/40, di ruang UGD setelah mendapat pemeriksaan dari dokter jaga ia tidak merasakan apa-apa, bahkan Soeripto sempat jalan-jalan mundar mandir sambil menunggu tempat perawatan. Setelah masuk ruang perawatan ia merasa diri sangat sehat, baru keesokan harinya sebelah anggota tubuh tidak dapat digerakkan.
Sejak dirawat semalaman saya baru ketemu dokter spesialis syaraf rumah sakit Pukul 12.00 Siang, berarti Soeripto sudah kehilangan Golden Period. Akibatnya ia harus mengalami kelumpuhan sebelah kanan selama seumur hidup. Kalau ditanya perasaan sebenarnya ia sangat kecewa. Namun dorongan isteri dan keluarga yang begitu besar, keadaan ini tidak membuat Soeripto berkecil hati bahkan memacu semangatnya dapat hidup mandiri.
?Sepulang dari rumah sakit, saya masih tetap menjalankan aktivitas hidup seperti biasa, bahkan saya masih bekerja sampai akhirnya pensiun pada tahun 2003 dalam usia 65 tahun. Untuk menunjang proses rehabilitasi saya juga aktif menjadi anggota klub stroke rumah sakit tempat saya di rawat.?
Kepeduliannya terhadap semakin meningkatnya kasus stroke, di mana kerap merenggut jiwa yang banyak menimpa tetangga sekitar rumahnya di Pulomas, mendorong dirinya dan beberapa orang untuk mendirikan klub stroke berbasis masyarakat. Tekad ini mendapat sambutan dari Kepala Kelurahan Pulogadung dengan menyediakan sarana bagi kegiatan klub Stroke ini. Budi Kusumanto

Categories: KS-PULOGADUNG

Ir H Windu Hernowo, MM BERKAT DUKUNGAN KELUARGA SEMANGAT HIDUP KEMBALI BANGKIT

August 7, 2007 · 2 Comments

Insinyur H Windu Hernowo MM, Ketua Klub Stroke RS Pusat Pertamina, harus mengalami ketidakberdayaan akibat stroke yang menyerangnya pada 28 Desember tahun 2000 lalu. Padahal, waktu itu, jabatan pria kelahiran tahun 1958 ini sedang bagus sebagai Quality Health Savety Envenronment Manager di salah satu perusahaan asing.

Insinyur H Windu Hernowo MM, Ketua Klub Stroke RS Pusat Pertamina, harus mengalami ketidakberdayaan akibat stroke yang menyerangnya pada 28 Desember tahun 2000 lalu. Padahal, waktu itu, jabatan pria kelahiran tahun 1958 ini sedang bagus sebagai Quality Health Savety Envenronment Manager di salah satu perusahaan asing Internasional.

Kejadian nahas itu berawal dari kepergiannya ke Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. ?Pada waktu itu saya cuti ke Malang. Pada sore hari yang cerah itu, saya merasa pegal2, di bahu dan kata kakak saya yang bekerja di RS mulut saya mencong tanda-tanda terkena CVA (Cerebro Vaskular Attack). Karenanya oleh kakak, saya di bawa ke rumah sakit Lavallette, katanya mengenang.
Di rumah sakit ini, ia di tes fungsi gerak tubuh dan saraf motorik tubuh. Hasilnya, fungsi gerak tubuh Ir H Windu dinyatakan masih bagus. Tindakan selanjutnya ia langsung dirawat inap dan mendapat infus.
Setelah menjalani perawatan beberapa hari, ternyata kondisinya bukan bertambah bagus, tapi justru bertambah buruk. Celakanya, ia harus menginap lagi empat hari. Setelah empat hari pun keadaan Windu tambah memburuk. Karenanya atas permintaan konsultan, ia diminta untuk dipindahkan ke Jakarta.
Namun karena tempat ia terserang lebih dekat ke Surabaya, daripada ke Jakarta akhirnya Windu di dipindahkan ke RS Intarnational Surabaya. Di RS ini infus yang lama di buang semua dan diganti dengan cairan infus lain. Tapi, kondisinya sudah benar-benar buruk, karena sebagian tubuhnya sudah lumpuh dan tidak bisa digerakkan lagi.
Di RS International Surabaya Windu dirawat selama 29 hari. Sekian lama dirawat di rumah sakit tersebut tidak mengalami kemajuan, akhirnya dia dipindahkan lagi ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta. Di sini Windu kembali di infus dan mendapat pelayanan standar Indonesia, artinya kalau orang Indonesia bilang bagus ya bagus. ?Setelah menjalani perawatan beberapa lama, akhirnya saya dinyatakan sembuh dan boleh keluar dari RSPP pada 11 Februari 2001,dengan tangan dan kaki kiriyang masih tetap lumppuh”, katanya.

Latihan Fisioterapi
Karena kekeliruan pada saat penanganan awal di Malang, kondisi tubuhnya yang sudah lumpuh sebelah tidak bisa dikembalikan seperti sediakala. Kalau saja pada waktu itu periode emas benar-benar dimanfaatkan sebaik mungkin dengan penanganan yang akurat, kecacatan yang dialami sekarang ini tidak akan terjadi.
Apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Karenanya untuk memaksimalkan anggota tubuh yang lumpuh, sejak di rawat di RSPP dia sangat rajin menjalani latihan fisioterapi. Bahkan, sampai enam bulan setelah keluar dari rumah sakit ini setiap hari tanpa bosan-bosan melakukan latihan fisioterapi.
Latihan fisioterapi yang dijalaninya sampai sekarang sangat dirasakan manfaatnya. Meskipun fisioterapi tak menyembuhkan, tapi sangat membantu untuk melenturkan otot-otot yang kaku, sebagai akibat serangan stroke yang mampu menarik saraf-saraf anggota tubuh lainnya.
?Agar lebih efektif dalam menjalani program-program latihan, saya masuk ke dalam klub stroke RSPP pada 7 April 2001. Selama menjadi anggota klub, sampai akhirnya terpilih sebagai Ketua Klub Stroke RSPP banyak manfaat yang saya dapat. Di antaranya tidak merasa sendiri, mendapat lebih banyak informasi pengobatan yang dilakukan oleh teman-teman senasib, dapat menstabilkan emosi. Karena biasanya insan pasca stroke sangat tidak stabil tingkat emosinya,? paparnya.

Peran keluarga
Peran keluarga bagi proses penyembuhan bagi insan pasca stroke sangat besar. Karena tanpa dukungan keluarga insan pasca stroke tidak mungkin bisa menjalani hidupnya secara baik, biasanya mereka akan dilanda keputusasaan yang berkepanjangan, sebagai akibat terhentinya berbagai aktivitas yang biasa di jalani, juga akibat kecacatan dan keterbatasan dirinya.
?Semula saya juga merasakan untuk apalagi hidup dengan ketidakberdayaan. Tapi berkat dukungan dan semangat dari anggota keluarga, terutama istri dan kakak, semangat hidup saya kembali bangkit dan tidak ada lagi keputusasaan. Bahkan, saking semangatnya untuk bisa sembuh, saya bersedia ditunjuk menjadi ketua klub stroke RSPP,? ucap Windu semangat.

Categories: Klub Stroke