STRETCHING UNTUK GAYA HIDUP SEHAT INSAN PASCA STROKE

August 7, 2007 · 7 Comments

STRETCHING UNTUK GAYA HIDUP SEHAT INSAN PASCA STROKE
Barkah Sugiharto, AMF
Fisioterapis Klinik Mandiri Stoke & Neuro Rehabilitasi
Jl. RS. Fatmawati 81 Cilandak Jakarta Selatan
Telp. 021 7504327

Problem pasca stroke yang sering dialami oleh IPS adalah kelemahan otot akibat kerusakan pada otak sebagai pusat motorik tubuh kita. Hal ini akan menyebabkan terjadinya gangguan gerak bahkan mungkin tidak dapat melakukan gerakan sama sekali, Bila ini terjadi pada kurun waktu yang lama maka bisa menimbulkan efek problem berikutnya seperti ; kekakuan sendi , nyeri gerak , pemendekan otot (kontraktur ), pengecilan otot ( atrophy ), bengkak pada jari-jari, gangguan sirkulasi, dan perubahan postur tubuh.

STRETCHING sebagai SOLUSI

STRECHING ( PENGULURAN ) adalah istilah umum yang di gunakan untuk menjelaskan suatu cara terapi dengan tujuan memperpanjang struktur jaringan lunak yang mengalami pemendekan sehingga dapat meningkatkan panjang otot dan Lingkup Gerak Sendi ( Range of Motion ).

Setiap orang dapat mempelajari dan melakukan peregangan tanpa mengindahkan usia atau kelenturan seseorang. Tidak mustahil juga bagi IPS bisa dan mampu melakukan stretching sendiri di rumah. Mulai dari stretching ringan hingga dengan gerakan yang lebih komplek sesuai dengan kapasitas fisik dan kemampuan keseimbangan nya. Stretching bisa dilakukan dimanapun – kapanpun anda mau dan perlu, dan enjoy melakukannya . Semisal ; di taman , di ruang tunggu RS, di mobil, di kamar. Atau dilakukan pada pagi hari sebelum aktifitas, setelah duduk atau berdiri lama, saat anda merasa kaku .

MANFAAT STRETCHING

Pada IPS biasanya lebih cepat merasa kaku pada sendi dan otot-ototnya . Hal ini disebabkan adanya gangguan tonus otot yaitu spastis atau hypertonus . Untuk itu tindakan stretching harus sering dilakukan karena dengan stretching secara teratur maka dapat :

1. mengurangi ketegangan otot
2. menurunkan spastisitas
3. membantu gerakan lebih bebas dan mudah
4. membuat kesadaran / persepsi terhadap tubuh lebih baik
5. meningkatkan lingkup gerak sendi
6. memperbaiki sirkulasi
7. meningkatkan percaya diri
8. badan lebih fit, rileks , dan sehat
9. meningkatkan perhatian terhadap kemampuan fisiknya
10. menjaga posture tubuh

CARA MELAKUKAN STRETCHING

Dalam melakukan stretching ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk menghindari kesalahan dalam melakukan stretching , antara lain ;

1. Tetapkan otot mana yang akan diulur
2. Posisioning yang benar dan rileks
3. Gerakan stretching yang dilakukan memberikan efek regangan dari yang ringan
4. Otot yang teregang terasa sedikit sakit tidak masalah
5. Adaptasikan regangan dengan gerakan berulang-ulang dan pastikan rasa sakit makin turun / hilang
6. lakukan secara teratur
7. Lakukan stretching mulai dari gerakan yang mudah , bila gerakan sulit minta bantuan orang lain

METODE STRETCHING

Metode yang bisa di gunakan oleh IPS untuk melakukan stretching , antara lain ;

1. Passive Stretching
Stretching dengan menggunakan metode ini dilakukan dengan menggunakan tenaga dari luar baik manual atau mekanik. Metode ini sangat cocok untuk IPS yang masih butuh bantuan orang lain dan mempunyai nilai kemandirian kecil. Minta bantuan Fisioterapis untuk memberikan Edukasi tentang stretching yang diperlukan pada anggota keluarga atau tenaga didik khusus untuk stretching.
2. Active Stretching
Metode ini dilakukan oleh IPS itu sendiri secara aktif sesuai dengan kapasitas fisik dan kemampuan keseimbangannya. Keuntungan dengan metode ini akan membuat lebih percaya diri , kreatif, dan memiliki tanggung jawab dan kepedulian tinggi terhadap kapasitas fisiknya

GERAKAN STRETCHING

Saat melakukan gerakan stretching lakukan pemanasan dulu untuk menyiapkan otot yang akan diulur . mulailah dengan gerakan yang sederhana dan mudah dilakukan . Berikut contoh gerakan stretching dengan metode active stretching yang dilakukan oleh Mr. David Sutedja IPS yang mengalami serangan stroke 3 tahun yang lalu dengan Hemiparese Sinistra . , melakukan stretching setiap pagi di Taman di daerah Kelapa Gading.

Gambar 1

Gambar 2

Dengan melakukan stretching yang teratur maka akan memberikan efek yang optimal. Karena dengan bentuk terapi yang sederhana ini anda bisa melakukan dimana dan kapan saja .

Mandiri Development Programme

Barkah Sugiharto, AMF
Fisioterapis Klinik Mandiri Stoke & Neuro Rehabilitasi
Jl. RS. Fatmawati 81 Cilandak Jakarta Selatan
Telp. 021 7504327

Categories: Fisio Terapi

PEYANDANG STROKE BISA NYETIR LAGI; TAPI AWAS !!!

August 7, 2007 · 1 Comment

PEYANDANG STROKE BISA NYETIR LAGI; TAPI AWAS !!!

H. Berry Tanukusuma. 07.05.07.

Sejalan dengan kemajuan teknologi di berbagai bidang, termasuk pesatnya kemajuan teknologi Automotive, banyak hal-hal yang dahulu dianggap tidak mungkin, kini menjadi mungkin dan merupakan pemandangan sehari-hari yang tidak aneh atau luar biasa.
Misalnya FT, yang lumpuh kedua belah kakinya akibat penyakit polio dan 20 tahun yang lalu dianggap tidak mungkin, sekarang dengan nyamannya mengemudikan Holden Kingswood tuanya di kesibukan lalulintas kota Jakarta, setelah merenovasi mobilnya dengan memindahkan semua pedal yang seharusnya digerakkan oleh kedua belah kakinya dibawah, dialihkan keatas sedemikian rupa sehingga dapat difungsikan oleh kedua belah tangannya, sehingga sepintas lalu, mobil tua yang meluncur di jalan raya itu tidak tampak bahwa dikemudikan oleh seorang penyandang cacat yang lumpuh kedua belah kakinya, tapi jika diperhatikan lebih jeli, akan terlihat bahwa mobil itu dilengkapi dengan sticker (gambar stempel) kursi roda berwarna biru/putih 1 lembar di depan dan 2 lembar di belakang yang mengisyaratkan bahwa mobil itu dikemudikan oleh seorang penyandang cacat dan akan lebih jelas lagi, ketika mobil itu tiba di tempat tujuan, maka dari pintu kanan depan akan tampak bahwa sang pengemudi bukannya melangkah keluar dari dalam mobil, melainkan “ bergelantungan seperti Tarzan dari dalam mobil lalu beralih ke atas kursi roda dan kemudian didorong pergi oleh asistennya yang semula ikut sebagai penumpang, yang sudah tidak canggung lagi melaksanakan tugasnya, bahkan sempat ikut mendampingi FT beberapa tahun lalu mengikuti perlombaan rally mobil penyandang cacat, menempuh jarak Jakarta – Yogyakarta dan berhasil menjuarainya.
Demikian pula halnya dengan FA, lelaki separuh baya yang akibat suatu kecelakaan lalu lintas 15 tahun lalu sehingga kaki kanannya harus di amputasi, maka walau hanya dengan sebelah kaki, sehingga untuk berjalanpun ia harus disangga oleh sepasang kruck di ketiaknya tidaklah terlalu sulit baginya untuk mengemudikan Honda Accord buatan tahun 1980 yang telah “disesuaikan” dengan kondisi tubuhnya, sehingga fungsi rem dan gas berpindah lokasi ke sekitar dashboard dibawah kemudi dan di jalan tol ia sanggup meluncur dengan kecepatan 120 km/jam.
Lalu bagaimana kemungkinanannya dengan kita, para penyandang stroke (Insan Pasca Stroke) ? saya sendiri dan demikian pula dengan 12 rekan lainnya dari RSCM, RSPAD, RS. Fatmawati, Klinik Karmel dan Rumah Sakit Islam Jakarta telah mengalami dan membuktikannya sendiri, bahkan beberapa orang di antaranya, sanggup mengemudikan mobil tanpa harus merenovasinya, oleh karenas bagian tubuhnya yang sakit/lemah, masih bisa berfungsi, meskipun tidak sekuat bagian tubuhnya yang sehat.
Khusus pada kasuh saya, oleh karena tangan dan kaki kiri sama sekali tidak dapat berfungsi untuk memindahkan gigi versneling dan menginjak kopling, maka terpaksa kijang tahun 1994 ini saya ubah menjadi kijang automatic dengan mengganti gearbox assy manual dengan yang automatik dengan total biaya 7 juta rupiah yang relatif sangat murah jika dibandingkan dengan membeli kijang automatik original yang harganya diatas 100 juta rupiah.
Tetapi ternyata kendala yang dihadapi oleh seorang pengemudi stroke, bukan hanya sekedar ketidakmampuan menginjak kopling dan memindahkan gigi versneling saja, tetapi akibat serangan stroke berat yang saya alami pada tanggal 15 Januari 1986, 21 tahun lalu, bukan hanya sekedar mencederai otak/syaraf motorik (7) dan syaraf bicara (9) saja, tetapi ternyata telah merusak/mengganggu syaraf pengendali yang ternyata dapat mengakibatkan ancaman bagi keselamatan dan kenyamanan mengemudikan mobil, antara lain, namun tidak terbatas pada gangguan berikut ini :

I. Gangguan kontrol diri

1. Sewaktu-waktu, tanpa disadari saya keasyikan menikamati nyetir mobil lagi, tidak terasa telah menginjak pedal gas berlebihan, sehingga tiba-tiba saja tersadar dan terkejut ketika istri saya memperingatkan “Awas pak, jangan terlalu cepat!” dan ketika saya melihat ke arah speedometer, ternyata jarumnya telah mantap, tidak bergeming menunjuk ke angaka 140 km/jam di jalan tol Jakarta – Cikampek.
2. Demikian pula halnya, tanpa disadari, keasyikan nyetir mobil bersama-sama dengan 7 IPS dari RSCM, menjelajah kota Jakarta, Depok dan Bekasi untuk mengunjungi kawan-kawa senasib, IPS yang kondisi kesehatannya memburuk, tetapi alangkah terkejutnya ketika tiba kembali dirumah, istri saya ngomel habis-habisan, karena jam telah menunjukkan pukul 19.00 malam, sedangkan saya berangkat meninggalkan rumah, setelah sarapan pukul 07.00 pagi, yang berarti saya telah nyetir mobil sehari suntuk selama 12 jam dengan hanya berhenti untuk ngisi bensin, makan siang, sholat dan pipis saja!

II. Gangguan Orientasi (Disorientasi)
1. Nyasar ke Taman Safari
Sebelum ada jalan tol Cipularang/Purbalarang dulu, ketika saya nyetir mobil ke Bandung lewat Puncak, di tengah perjalanan anak-anak ribut pada protes : “Pak, ngapain malam-malan begini ke Taman Safari?” rupanya tanpa sadar, saya telah berbelok ke arah Taman Safari pada pukul 19.00 malam.
2. Nyelonong ke Tanjung Priok
Begitu juga halnya, ketika nyetir dalam keadaan hujan lebat, di jalan By-pass menuju pulang ke Rawamangun, di lampu merah By-pass Pramuka, yang seharusnya belok ke kanan ke jalan Pemuda, tanpa disadari mobil nyelonong lurus ke arah Tanjung Priok, untung saja cepat disadari, sehingga dapat langsung berbalik arah kembali di perempatan Jl. Rawasari / H. Ten

III. Gangguan Konsentrasi :
1. Meskipun merasa cukup tidur dan tidak mengantuk, ketika sedang asyik nyetir, secara perlahan-lahan, tanpa terasa dan tidak disadari, ternyata mobil telah nyelonong sendiri ke tepi kiri dan baru terkejut tersadar setelah roda kiri depan menyentuh trotoar atau menginjak rumput pembatas tepi jalan.
2. Sewaktu ngantri pada kemacetan lalu lintas, ketika sebuah mobil menyusul di samping kanan sambil mencet klakson dengan keras, sehingga saya terkaget dan meninjak gas tanpa sadar agak terlalu keras sehingga hampir nabrak mobil di depan, sedangkan tangan kiri yang lumpuh, tanpa disadari telah terangkat/terlempar ke atas sampai membentur plafond mobil, yang kalau secara sadar atau sengaja, saya tidak sanggup melakukannya.

IV. Gangguan Reaksi :
Di luar kesadaran saya, ternyata kemampuan reaksi saya sudah jauh menurun, sehingga ketika mengahadapi kondisi yang kritis pada persimpangan jalan di Cipanas – Puncak, sebuah Pick-up pengangkut sayur nyelonong ke samping kiri, saya terlambat nginjak rem dan banting setir, sehingga serempatan pun tak dapat dihindarkan. Untung saja yang cedera hanya sekedar pintu kiri mobil saya, sedangkan kedua penumpangnya, Alhamdulillah selamat.

V. Gangguan Demensia/lupa/pikun :
Meskipun tidak menyebabkan akibat yang fatal, tapi gangguan demensia/lupa /pikun vascular ini sangat membuat saya risau dan khawatir seperti misalnya :
1. Lupa menutup tanki bensin ;
Setelah mengisi BBM di pom bensin, lupa menutupnya kembali dan baru menyadarinya setelah ada sebuah mobil menyusul sambil memberi isyarat dan menunjuk-nunjuk ke arah tanki bensin saya, karena bensinnya kececeran di jalan raya.
2. Lupa mematikan lampu mobil
Ketika akan berbelok kanan ke pintu gerbang RSPP, biasanya untuk “minta jalan kepada mobil lain saya cukup dengan menyentuh tuwas switch lampu, kali ini saya minta jalan dengan cara menghidupkan lampu besar dan kemudian langsung parkir tanpa mematikannya kembali.
Ketika akan pulang, mobil tidak bisa distarter karena akinya soak akibat setengah harian parkir dengan lampu besar menyala terus.
Tapi masih untung, saya selalu berbekal kabel jumper di mobil, sehingga bisa “meminjam” aki taxi/mobil lain dengan imbalan 20 ribu rupiah.
3. Lupa narik rem tangan :
Ketika mengisi BBM di pom bensin yang pelatarannya menurun (mudun) ke arah jalan raya, saya lupa memasukkan gigi versneling ke gigi P dan menarik rem tangan, sehingga ketika baru saja keluar dari pintu, mobil mulai nyelonong perlahan ke arah jalan raya.
Karena saya berusaha menahan laju mobil dengan cara menarik pintunya, maka boro-boro bisa berhenti, malahan saya terbanting jatuh ke kolong mobil, sehingga ban belakang mobil lewat hanya beberapa cm saja dari kepala dan hanya sempat menggilas kacamata saya sehingga hancur berantakan dan harus menggantikannya dengan yang baru seharga Rp. 410.000,- tapi Alhamdulillah kepala saya selamat!
4. Lupa mematikan mesin mobil
Ketika parkir di pelataran RSCM untuk bergabung dalam acara senam stroke, rupanya saya lupa mematikan mesin mobil, karena hanya mencabut kuncinya saja, tanpa memutarnya sehingga mesin mobil menyala terus dari pagi sampai senam selesai pukul 12.00 siang, itupun setelah tukang parkir menyusul ke tempat senam dan memberitahukan bahwa mesin mobil masih hidup yang membuat saya terkejut dan menyadarinya. Rupanya karena mobil tua, sehingga kuncinya sudah aus/gundul dan bisa dicabut dalam keadaan mesin hidup.
5. Lupa mengisi bensin
Tanpa melihat bahwa jarum indikator bensin sudah mendekati hurup E, dari Cilandak saya langusng saja masuk ke gerbang tol ke arah Cawang. Tepat dipersimpangan jalan layang Grogol-Priok, mesin mobil mati dengan jarum indikator bensin mentok di kiri.
Tanpa di undang, tiba-tiba saja sebuah mobil derek liar dengan 4 orang operatornya yang kekar, tinggi besar dengan akar bahar melingkar di lengan, dengan tenangnya mengangkat paksa saya ke kursi penumpang di sebelah kiri, sedangkan mereka tanpa bimbang dan ragu, mengambil alih kemudi sampai di pom bensin dengan “ongkos” tidak sukarela sebesar Rp. 350.000,- tanpa bisa diganggu-gugat!

Kesimpulan :
I. Mungkin saya masih bisa menambah panjang daftar kendala bagi pengemudi stroke, tergantung dari kelebihan maupun kekurangan yang dimiliki oleh masing-masing IPS, yang satu dengan yang lain tidaklah sama.
II. Dari ke-13 pengemudi stroke, 3 orang di antaranya telah berhenti mengemudi dengan berbagai alasan, antara lain : 1. Kapok karena ditabrak metromini dari samping, 2. Merasa tidak nyaman dan takut mengalami stress, karena kondisi lalu lintas kota Jakarta yang semakin padat, semrawut, seolah tanpa disiplin, 3. “Ah ngapain repot-repot, saya kan masih sanggup membayar gaji sopir ?”.
III. Dengan mengetahui berbagai kendala tersebut dan menyadari segala kemungkinan akibat yang mengancam kepada setiap IPS yang masih bisa, atau berminat untuk nyetir lagi, akan dapat menentukan sendiri manfaat yang diperoleh, dibandingkan dengan besarnya resiko yang mengancam, sehingga akhirnya dapat memutuskan berhenti, atau terus menjadi pengemudi stroke (stroke-driver)
IV. Apabila setelah membaca tulisan ini, jika anda sebagai seorang Insan Pasca Stroke masih juga berani nyetir mobil, bisa berarti bahwa anda :
1. Memiliki keyakinan akan kemampuan dan percaya diri yang kuat;
2. Menganggap bahwa manfaat dari nyetir mobil masih lebih besar daripada bahayanya;
3. kemungkinan ketiga, yaitu anda termasuk kategori orang yang over-PD, alias nekat !.
Dan akhirnya, sebagai tambahan informasi, berikut ini saya sampaikan beberapa tips yang mungkin berguna bagi keselamatan dan kenyamanan anda sebagai pengemudi stroke :
1. Sebelum naik mobil dan duduk di belakang setir, pastikan dahulu bahwa air radiator, air aki, oli rem, oli mesin, oli power steering, terisi dengan cukup pada batas yang normal, yaitu sedikit diatas batas minimum dan sedikit dibawah batas maksimum dan periksa keempat ban mobil anda tidak kekurangan maupun kelebihan tekanan angin, yang cukup di taksir dengan kasat mata, karena jika kekurangan tekanan, bisa berakibat kempes di perjalanan, sedangkan jika kelebihan tekanan angin dapat membuat perjalanan menjadi tidak nyaman akibat bantingan ban yang terlalu keras dan kaku, bahkan pada perjalanan yang jauh semisal keluar kota dengan kecepatan tinggi, dapat menyebabkan naikknya suhu udara dalam ban yang dapat mengakibatkan meledaknya ban mobil kita.
2. Pemeriksaan kondisi mobil tersebut sebaiknya dijadikan kegiatan rutin kita, misalnya setiap hari Sabtu atau Minggu yang kita lakukan sendiri, sehingga kondisi mobil akan terpantau dan terpelihara dengan baik, bahkan mungkin akan dapat menjalin “suatu hubungan harmonis”, semacam “saling pengertian antara mobil dengan kita sebagai pengemudi.
3. Setelah duduk dibelakang setir, periksalah posisi ketiga kaca spion : tengah, kiri dan kanan, jika ada yang kurang baik, perbaikilah posisinya : spion tengah dan kanan dapat di koreksi langsung oleh tangan kita yang sehat, sedangkan kaca spion kiri dapat dikoreksi dengan bantuan tongkat/walking stick yang sebaiknya selalu kita bawa dan disimpan dalam mobil pada tempat yang mudah dijangkau oleh tangan yang sehat, sehingga akan memudahkan jika sewaktu-waktu perlu untuk mengoreksi posisi kaca spion kiri yang memang sering berubah baik karena terpaan angin sewaktu mobil meluncur kencang, maupun karena tersenggol kendaraan lain atau oran yang lewat, bahkan mungkin dalam keadaan darurat/terdesak, tongkat ini dapat pula dimanfaatkan sebagai alat untuk membela diri.
4. Pemanasan awal : Starterlah dan panaskan mesin mobil, sekurang-kurangnya selama 3 menit, yaitu 1 menit pertama pada putaran mesin sekitar 2000 RPM dan 2 menit berikutnya pada putaran mesin stasioner, yaitu sekitar 1000 RPM (Rotasi per menit). Sementara itu pasanglah sabuk pengaman bagi pengemudin dan penumpang disamping kiri (jika ada) dan perhatikanlah semua jarum serta lampu indikator pada dashboard, apakah semuanya menunjukkan kondisi yang seharusnya, yang berarti bensin cukup, alternator mengisi aki dengan baik, demikian pula dengan semua lampu besar, kecil, sein (richting), rem tangan dan hazard, barulah kita melakukan pemanasan mesin yang sebenarnya, (pemanasan tahap kedua) yaitu dengan cara menjalankan mobil perlahan-lahan, hati-hati dan lembut (smooth n gentle), serta batasilah kecepatan mobil dengan membatasi putaran mesin pada maksimum 2000 RPM selama sekitar 10 menit, sehingga pemanasan itu benar-benar merata ke setiap bagian mobil, bukan hanya di sekitar block mesin, crankshaft saja, melainkan sampai ke setiap bagian mobil yang bergerak, sehingga seolah-olah secara bertahap memanaskan seluruh tulang-belulang, sendi-sendi, engsel dan syaraf mobil kita !
Setelah tahap pemanasan mesin mobil ini selesai, maka kita dapat meluncurkan mobil pada kecepatan yang sesuai dengan kebutuhan, bukan keinginan kita. Jika kita mengabaikan prosedur pemanasan mobil tersebut, semisal di pagi hari kita langsung memacu mobil melebihi RPM 2000, maka tidaklah mengherankan mesin mobil bisa tiba-tiba saja mati tanpa diketahui apa penyebabnya. Apabila hal itu terjadi, jangan langsung mobil di starter lagi, tapi bersabarlah antara 2-3 menit, barulah di starter lagi dan ulangi pemanasan tahap kedua dengan memperhatikan cara menjalankan mobil dengan baik yaitu injaklah pedal gas dan pedal rem mobil sesuai dengan kebutuhan (bukan keinginan) sehingga semua penumpang akan merasa nyaman, tidak tersentak ketika di gas dan terhenyak ketika di rem, kecuali jika memang situasi dan kondisinya membutuhkan !
5. Batasilah kecepatan mobil dalam kota dengan maksimum RPM 3000, karena dengan putaran / rotasi mesin 3000 per menit ini pun kita akan dapat meluncur antara 20 sampai 80 km/jam yang sudah mencapai batas kecepatan maksimum dalam kota sedangkan di luar kota, kita dapat membatasi kecepatan mobil dengan 4000 RPM yang berarti dapat meraih kecepatan sampai 120 km/jam yang sudah melampaui kecepatan maksimum di jalan tol yang sebaiknya jangan kita lakukan sebagai pengemudi stroke demi keselamatan, kenyamanan mengemudi dan pemborosan bensin, piringan dan kampas rem serta ban mobil kita yang dari tahun ke tahun harganya semakin melambung tinggi.
Akhirnya saya ucapkan selamat menikmati perjalanan anda dan meskipun terbatas dari dan untuk Insan Pasca Stroke, tetapi saya harapkan bahwa tulisan ini ada manfaattnya.

H. Berry Tanukusuma. 07.05.07.

Categories: Pemberdayaan IPS

Angka Kejadian Stroke Meningkat Tajam 

August 7, 2007 · 2 Comments

Angka Kejadian Stroke Meningkat Tajam
Angka kejadian stroke di Indonesia meningkat dengan tajam. Bahkan, saat ini Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita stroke terbesar di Asia, karena berbagai sebab selain pemyakit degeneratif, terbanyak karena stres ini sangat memprihatinkan mengingat Insan Pasca Stroke (IPS) biasanya merasa rendah diri dan emosinya tidak terkontrol dan selalu ingin diperhatikan.

Angka kejadian stroke di Indonesia meningkat dengan tajam. Bahkan, saat ini Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita stroke terbesar di Asia, karena berbagai sebab selain pemyakit degeneratif, terbanyak karena stres ini sangat memprihatinkan mengingat Insan Pasca Stroke (IPS) biasanya merasa rendah diri dan emosinya tidak terkontrol dan selalu ingin diperhatikan.

Menurut dr Herman, Syamsuddin, SpS,AMARS Ketua Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) DKI Jakarta, biasanya para IPS merasa kondisi tubuhnya yang cacat ini menyebabkan mereka tidak berdaya dan merasa perlu dibantu oleh anggota keluarga lain. Bila tidak diberikan semangat mereka selamanya akan bergantung dengan anggota keluarga lain dan tidak mandiri.
Karena itulah dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-13 Yastroki DKI dan Peringatan Hari Stroke Sedunia ke-3 Yastroki DKI menyelenggarakan acara di TMII Jakarta. Tak lain, untuk membuat para IPS ini merasa mendapat perhatian, merasa hidup dalam lingkunganya yang senasib.
“Dari perayaan inilah pengurus Yastroki DKI Jakarta akan menanamkan kepada mereka untuk dapat hidup mandiri. Karena pada dasarnya para IPS dapat melakukan segala sesuatu sendiri setelah melalui tahapan rehabilitasi dan latihan teratur. Kita gunakan kepercayaan diri mereka, untuk dapat melakukan segala sesuatu sendiri,” katanya.
Saat ini yang cukup memprihatinkan adalah cukup meningkatnya kasus-kasus stroke pada usia muda yang diakibatkan adanya penyakit kalainan jantung bawaan. Terutama kerusakan pada klep jantung, membuat aliran darah yang menuju otak terhambat, sehingga terjadi serangan stroke.
Seperti yang dialami Syarifah Aulia, siswi kelas III SD ini sejak bayi mengalami kelainan jantung dan tidak boleh capek. Dua bulan lalu ia mengalami koma selama enam hari.
Menurut ibunya, Ny Diah, darah putrinya mengental, karena darah Hb-nya mencapai 22-23, padahal normalnya 12-14 untuk perempuan. Kemudian terjadi sumbatan di otak kiri, akibatnya organ tubuh sebelah kanan mengalami kelumpuhan serta bibirmya sempat mencong.
“Alhamdulillah, sekarang anak saya sudah bisa berjalan, meski kalau berjalan agak jauh harus dibantu dengan kursi roda. Juga sudah bisa bicara meski agak tersendat,” tutur ibunya.
Dr Herman mengatakan, Stroke adalah gangguan saraf yang menetap. Penyebabnya adalah kerusakan pembuluh darah di otak. Serangan itu berlangsung selama 15-20 menit. Orang menyebutnya sebagai serangan otak dan identik dengan serangan jantung. .
Tercatat 80 persen pasien stroke perdarahan disebabkan hipertensi dan 20 persen karena adanya kelainan pembuluh darah di otak sejak dini/lahir (AVM) dan pecah saat bertambah usia. Dengan adanya pergeseran usia serangan stroke ke arah yang lebih muda penyebabnya adalah perubahan pola makan dan gaya hidup.
Lihat saja anak anak SD-SMP perkotaan masa kini yang lebih suka mengonsumsi Junk food yang penuh kolestrol dan trigliserid, sehingga sering kita lihat dari 10 anak 6 di antaranya mengalami kegemukan (Obesitas). Akibatnya pada usia produktif mereka akan terkena berbagai penyakit pembuluh darah satu di antaranya stroke.
Untuk menekan jumlah penderita stroke, kata Herman, sebelum kita menggiatkan kembali klub stroke berbasis masyarakat, kita harus perhatikan dahulu para IPS agar mereka mandiri, baru kita sosialisasikan kepada masyarakat. RIS

Categories: UMUM

Ketua Umum Yastroki Laksamana TNI (Purn) Sudomo: Stroke Bisa Ganggu Sosial Ekonomi Keluarga

August 7, 2007 · 4 Comments

Ketua Umum Yastroki Laksamana TNI (Purn) Sudomo:
Stroke Bisa Ganggu Sosial Ekonomi Keluarga
SAAT ini penyakit stroke tidak hanya menyerang kaum lanjut usia (Lansia), generasi muda pun sudah banyak yang terserang penyakit ini. Untuk mengetahui seberapa jauh masalah penyakit ini, Pelita mewawancarai Ketua Urmun Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki), Laksamana TNI (Pur) Sudomo. Berikut petikannya.

Bagaimana perkembangan penderita penyakit stroke di Indonesia sekarang?
Penyakit stroke bisa nienyerang siapa saja tanpa memandang jabatan ataupun tingkatan sosial ekonomi. Dalam dasawarsa terakhir ini sesuai dengan pengamatan dan peninjauan Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) di rumah sakit maupun yang berada dalam masyarakat, terdapat kecenderungan meningkatnya jumlah penyandang stroke di Indonesia. Kecenderung-annya menyerang generasi muda yang masih produktif. Ini akan berdampak terhadap menurunnya tingkat produktifitas serta dapat mengakibatkan terganggunya sosial ekonomi keluarga.
SAAT ini penyakit stroke tidak hanya menyerang kaum. lanjut usia (Lansia), generasi muda pun sudah banyak yang terserang penyakit tnt Untuk mengetahui seberapa jauh masalah penyakit ini, Pelita mewawancarai Ketua Urmun Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki), Laksamana TNI (Pur) Sudomo. Berikut petikannya.

Bagaimana perkembangan penderita penyakit stroke di Indonesia sekarang?
Penyakit stroke bisa nienyerang siapa saja tanpa memandang jabatan ataupun tingkatan sosial ekonomi. Dalam dasawarsa terakhir ini sesuai dengan pengamatan dan peninjauan Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) di rumah sakit maupun yang berada dalam masyarakat, terdapat kecenderungan meningkatnya jumlah penyandang stroke di Indonesia. Kecenderung-annya menyerang generasi muda yang masih produktif. Ini akan berdampak terhadap menurunnya tingkat produktifitas serta dapat mengakibatkan terganggunya sosial ekonomi keluarga.

Melihat kenyataan ini, apa yang dilakukan Yastroki?
Sesuai dengan visi dan misi Yastroki yaltu menurunkan insiden stroke di Indonesla telah mencanangkan program untuk mengadakan penanggulangan terhadap terjadinya stroke. Program tersebut dlusahakan melalui penumbuhan-penumbuhan peran serta masyarakat di daerah, antara Jain.dengan membentuk cabang-cabang Yayasan
Stroke Indonesia di beberapa daerah, utamanya di kota-kota besar yang memiliki kecenderungan meningkatnya angka stroke, seperti kota Bandung yang merupakan ibukota provinsi Jawa Barat.
Dengan terbentukiiya cabang Yastroki di daerah, diharapkan penanggulangan stroke dapat ditingkatkan secara efektif keberhasilannya.
Lalu, bagaimana bentuk koordinasinya antara Yastroki Pusat dan Daerah?
Hubungan antara Yastroki Pusat dan Yastroki Cabang bersifat konsultatif timbal balik antara pusat dan daerah dan sebaliknya. Disamping itu, hubungan pusat dan daerah bersifat otonom. Artinya, dalam masalah organisasi masing-masing mempunyai kewe-nangan penuh dalam mengurus rumahtangganya sendiri.
Organisasi mempunyai tugas untuk melaksanakan program-program yang secara keseluruhan mencakup penanggulangan masalah stroke. Adapun program-program yang telah, dilaksanakan Yastroki Pusat, antara lain mencakup bidang sosialisasi kepada masyarakat dalam penanggulangan stroke, dengan mengembangkan Gerakan Peduli Stroke (Gelis) dan Gerakan Peduli dan Akrab Stroke (Gempar).

Bagaimana pula reali-sasi Program Gelis?
Program Gelis dan Gempar ini diarahkan ke lingkungan RT dan RW dengan cara mem-bentuk klub-klub strbke. Klub stoke ini berfungsi sebagai mediator dan motivator untuk menciptakan kesadaran masyarakat agar mengetahui arti, bahaya, dan cara mengatasi dan menyalurkan seseorang apabila terjadi serangan stroke yang mendadak ke tempat peyanan unit-unit stroke di rumah sakit yang ada.
Sedangkan program lain yang telah dicanangkan oleh Yayasan Stroke Indonesia Pusat, yaitu penelitian tentang stroke yang dilaksanakan di rumah-rumah sakit untuk mengetalmi sistem penanganan stroke serta jumlah pasien stroke yang ada. Penelitian dan pengkajian ini bersifat retrospektif.

Apa hubunganya Yastroki dengan Nusantara Stroke medical Center?
Dalam rangka membantu meningkatkan pencegahan dan pelayanan stroke di Indonesia, maka Yastroki Pusat telah berhasil mendorong peran dan partisipasi masyarakat untuk mendirikan Klinik Nusantara Stroke and Medical Center, yang seluruh dananya didukung oleh kelompok masyarakat yang peduli stroke, khususnya dari masyarakat DKI Jakarta.
Gambaran program yang dicanangkan Yastroki Pusat merupakan seluruh tahapan program Yastroki dalam melaksanakan visi dan misinya. Program Yastroki ini berorien-tasi dan berbasis pada kekuatan masyarakat (communtty base development).

Apa saran Anda tcrhadap kaum muda agar tidak terserang stroke?
Guna menghindari semakin meningkatnya angka stroke di usia muda, kaum muda diminta untukberhati-hati dan mengubah pola hidup yang selama ini dijalaninya, Saat ini kecenderungan kelompok risiko terserang stroke di usia muda cukup memprihatinkan, selain karena perubahan pola hidup dan gaya hidup.
Lebih baik menghindari atau tidak merokok, mengkonsumsi makanan empat sehat lima sempuma atau dengan gizi seimbang, dan jangan hidup santai-santai atau tanpa olahraga.
Generasi muda yang perjalanan hidupnya masih panjang, untuk mampu berkiprah dan bersaing dengan sumber daya manusia lain dari luar negeri. Kecacatan yang mereka sandang akibat serangan stroke, bukan hanya menjadi beban keluarga, tapi juga beban masyarakat secara umum.
Oleh karena itu, perlu Sosialisasi kepada masyarakat yang terus menerus, agar dapat menerapkan pola hidup sehat dan sejahtera. Hal itu bisa dilakukan dengan berbagai cara, misalnya melalui berbagai seminar, penyuluhan, dan imbauan melalui media massa.(dew)

Categories: Psikologi Pasca Stroke

Perlu Ada Gerakan Masyarakat Peduli Stroke

August 7, 2007 · 3 Comments

Stroke selain menimbulkan kecacatan, juga menimbulkan dampak sosial ekonomi yang sangat besar. Karena, biaya medis untuk perawatan dan pengobatannya sangat tinggi, dan akibat kecacatannya banyak pasien pasca stroke yang tidak dapat bekerja kembali seperti sediakala. Sehingga, tidak heran jika pasien pasca stroke selain menjadi beban ekonomi keluarganya juga menjadi beban sosial masyarakat karena tidak produktif lagi.

Stroke selain menimbulkan kecacatan, juga menimbulkan dampak sosial ekonomi yang sangat besar. Karena, biaya medis untuk perawatan dan pengobatannya sangat tinggi, dan akibat kecacatannya banyak pasien pasca stroke yang tidak dapat bekerja kembali seperti sediakala. Sehingga, tidak heran jika pasien pasca stroke selain menjadi beban ekonomi keluarganya juga menjadi beban sosial masyarakat karena tidak produktif lagi.

Menurut Dr Jusuf Misbach, serangan stroke menimbulkan keruskaan pada jaringan saraf otak yang dapat mengakibatkan kecacatan, anatra lain berupa kelumpuhan pada separuh badan, terganggunya penglihatan dan pendengaran, berkurangnya daya ingat, kemunduran mental, menurunnya kemampuan berbicara dan berkomunikasi. Bahkan, ada sementara insan pasca stroke yang pada akhir masa penyembuhannya hanya menyandang sedikit kekurangmampuan atau ada yang nyaris pulih seperti sediakala.
Insan pasca stroke harus menghadapi hal ini secara realistis, serta melakukan evaluasi terhadap kemampuan yang masih ada, kemudian memanfaatkan kemampuan yang masih ada ini secara efisien dan optimal.
Rehabilitasi (pemulihan) terhadap insan pasca stroke biasanya dilakukan untuk mengusahakan agar dapat hidup mandiri, pulih kepercayaan dirinya, serta sekurang-kurangnya dapat mengurus kebutuhannya sendiri. Namun dalam kenyataannya banyak insan pasca stroke yang masih dapat mengurus keluarga atau rumah tangganya secara baik, bahkan ada juga yang masih dapat melakukan aktivitas sosial.
Karenanya, insan pasca stroke dianjurkan agar mencari dan menciptakan kesibukan, berkomunikasi atau berkumpul ditengah masyarakat, khususnya sesama insan pasca stroke. ?Dari pertemuan semacam ini banyak diperoleh informasi mengenai keadaan-keadaan yang kurang menyenangkan serta upaya untuk mengatasinya. Hal ini akan lebih besar manfaatnya karena datang dari orang-orang yang menghayati atau mengalami sendiri,? ujar Dr Jusuf Misbach.
Banyak kejadian serangan stroke berakibat jauh lebih fatal, karena rendahnya tingkat pengetahuan tentang stroke dari kalangan insan pasca stroke, keluarga bahkan dari kalangan tenaga kesehatan. Sebuah angket tahun 1995 di Amerika Serikat menyimpulkan hanya 20% masyarakat yang mengetahui gejala stroke dibanding 90% yang mengetahui gejala awal serangan jantung.
Di Indonesia, sekalipun belum pernah dilakukan angket perbandingan semacam itu, namun dapat dipastikan angkanya akan jauh lebih rendah. Oleh karena itu, menurutnya, perlu adanya suatu gerakan ?Masyarakat peduli stroke? yang terdiri dari berbagai kalangan antara lain insan pasca stroke serta keluarganya, tenaga medis, tokoh-tokoh masyarakat, serta unsur-unsur masyarakat lainnya.
Melalui koordinasi Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) khususnya Yastroki Cabang DKI Jakarta, dibentuklah klub-klub stroke yang berbasis pada tempat-tempat pelayanan stroke (rumah sakit, klinik) serta pada tempat-tempat lain yang memungkinkan di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.
Klub stroke ini mempunyai misi yang jelas, yaitu mengusahakan serta memfasilitasi para insan pasca stroke agar pulih kepercayaan dirinya dan dapat hidup mandiri, sehingga memungkinkan untuk dapat melakukan aktivitas sosial di tengah masyarakat, sekurang-kurangnya dapat saling berkomunikasi diantara para pasca stroke itu sendiri, menyebarluaskan pengetahuan yang memadai tentang penyakit stroke, dan melaksanakan kampanye budaya hidup sehat untuk mencegah timbulnya serangan stroke atau stroke ulang.
Sebagai suatu organisasi klub stroke dapat didefinisikan sebagai sekumpulan anggota masyarakat dari suatu basis komunitas tertentu yang secara sukarela berhimpun di bawah koordinasi Yayasan Stroke Indonesia yang sangat peduli terhadap penanggulangan masalah stroke.
Klub stroke sebagai suatu organisasi peranannya terasa semakin berkembang selama lima tahun terakhir ini, khususnya di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Indikasi tentang hal ini mulai kelihatan tatkala diselenggarakan rapat kerja teknis klub stroke se DKI Jakata yang difasilitasi Yayasan Stroke Indonesia Cabang DKI Jakarta.
Klub stroke Rumah sakit Islam Jakarta menjelang usianya yang mencapai Sewindu (8 tahun), akan mencoba mengembangkan serta meningkatkan peran klub stroke (insan pasca stroke) dari sekadar menjadi objek menjadi lebih bersifat subjek, dari sekadar menjadi penonton lebih menjadi pemain, dari sekadar melaksanakan kegiatan yang asal-asalan menjadi kegiatan yang lebih bersifat kajian. Sehingga, mampu menghasilkan berbagai pemikiran dan masukan yang berguna bagi perkembangan klub stroke dan insan pasca stroke khususnya.

Categories: Klub Stroke · Pemberdayaan IPS